Program Cilukba buktikan pengasuhan tepat jadi senjata lawan stunting - ANTARA News Kalimantan Timur

Kebutuhan anak bukan hanya makanan bergizi. Interaksi yang hangat, stimulasi yang tepat, serta keterlibatan ayah dan ibu secara bersama-sama merupakan fondasi penting untuk mendukung perkembangan otak dan mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang

Samarinda (ANTARA) - Upaya mencegah stunting tidak hanya bergantung pada pemenuhan gizi, tetapi juga pada pola pengasuhan yang tepat sejak anak memasuki masa emas pertumbuhan. 

Berangkat dari semangat tersebut, Tanoto Scholars Association (TSA) Universitas Mulawarman, komunitas pengembangan kepemimpinan dan pengabdian masyarakat bagi penerima beasiswa Tanoto Foundation di perguruan tinggi mitra, menghadirkan Program Cilukba (Cerdas, Lucu, Kreatif Bersama Ayah dan Bunda) sebagai upaya memperkuat kapasitas keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus mencegah stunting sejak dini.

Program yang berlangsung selama April hingga Juni 2026 di Posyandu Wijaya Kusuma, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kota Samarinda, ini melibatkan 18 keluarga binaan, 24 anak usia 0–3 tahun, serta enam kader Posyandu. 

Melalui rangkaian edukasi, konsultasi, hingga pendampingan langsung, Cilukba berupaya meningkatkan kapasitas orang tua dalam menerapkan pola pengasuhan berbasis bukti (evidence-based parenting) sebagai salah satu strategi pencegahan stunting.

Program ini disusun berdasarkan hasil asesmen lapangan yang dilakukan bersama Puskesmas Temindung dan kader Posyandu Wijaya Kusuma. 

Data Dinas Kesehatan Kota Samarinda pada 2024 menunjukkan, prevalensi stunting di wilayah kerja Puskesmas Temindung mencapai 21,64 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Kota Samarinda yang sebesar 16,77 persen. 

Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan program sekaligus memperkuat pentingnya edukasi mengenai gizi, stimulasi tumbuh kembang, dan praktik pengasuhan yang tepat.

Ketua Pelaksana Program Cilukba Dira Septiany Putri, mengatakan bahwa pendekatan program dirancang agar tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi juga mendorong perubahan perilaku melalui pendampingan langsung kepada keluarga.

"Kami ingin menghadirkan program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, seluruh rangkaian kegiatan disusun berdasarkan hasil asesmen lapangan sehingga materi yang diberikan relevan dengan tantangan yang dihadapi orang tua dalam mengasuh anak usia dini,” katanya. 

Pihaknya ingin menunjukkan bahwa stimulasi tumbuh kembang anak tidak selalu membutuhkan biaya mahal. Melalui program ini, masyarakat dapat memperoleh pendampingan langsung dari fasilitator yang kompeten.

Rangkaian kegiatan dimulai pada 14 April 2026 melalui sesi Konsultasi Tumbuh Kembang Anak dan Playgroup Stimulasi Tumbuh Kembang yang difasilitasi oleh Rumah Anak SIGAP (RAS). 

Orang tua mendapatkan layanan skrining perkembangan anak, identifikasi capaian perkembangan sesuai usia, serta rekomendasi stimulasi yang dapat diterapkan di rumah.

Sementara itu, anak-anak mengikuti berbagai aktivitas bermain yang dirancang untuk menstimulasi perkembangan motorik, kognitif, dan sosial-emosional seperti melukis menggunakan bubble wrap, memindahkan bola, meronce jalur, bermain puzzle ekspresi, hingga bernyanyi sambil mengenal berbagai ekspresi wajah.

Fasilitator Rumah Anak SIGAP menilai kegiatan berlangsung dengan baik. Orang tua menunjukkan partisipasi aktif selama proses konsultasi, sementara anak-anak tampak nyaman dan kooperatif ketika mengikuti skrining perkembangan. 

Menurut fasilitator, stimulasi sensorik dan motorik dapat dilakukan secara optimal di rumah, sedangkan perkembangan bahasa membutuhkan interaksi yang konsisten dari orang tua dan lingkungan sekitar.

Program kemudian dilanjutkan dengan Kelas Edukasi pada 25 April 2026 yang menghadirkan dokter spesialis anak, yakni dr. Ahmad Wisnu Waradhana, M.Sc., Sp.A. 

Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh materi mengenai evidence-based parenting, pemenuhan gizi seimbang, pencegahan stunting, serta berbagai mitos dan fakta seputar pengasuhan anak.

Menurut dr. Ahmad Wisnu Waradhana, keberhasilan tumbuh kembang anak tidak hanya ditentukan oleh kecukupan nutrisi, tetapi juga kualitas interaksi antara anak dan orang tua.

Orang tua saat mendampingi anaknya dalam Program Cilukba di Samarinda, Kaltim. (ANTARA/ HO- Tanoto Foundation)

"Kebutuhan anak bukan hanya makanan bergizi. Interaksi yang hangat, stimulasi yang tepat, serta keterlibatan ayah dan ibu secara bersama-sama merupakan fondasi penting untuk mendukung perkembangan otak dan mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang," jelasnya.

Efektivitas kegiatan terlihat dari hasil evaluasi peserta. Nilai pre-test yang semula berada pada rentang 53–100 meningkat menjadi 87–100 pada post-test. 

Jumlah peserta yang memperoleh nilai sempurna juga meningkat dari empat menjadi dua belas orang, menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mengenai pengasuhan berbasis bukti dan stimulasi tumbuh kembang anak.

Salah satu peserta, Siti Fatimah, mengaku memperoleh banyak wawasan baru yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyebut bahwa menjadi orang tua membutuhkan kesabaran, kesiapan mental, dan komitmen dalam menghadapi berbagai tantangan selama proses membesarkan anak, terutama pada masa usia dini. 

“Saya juga semakin memahami bahwa pengasuhan anak memerlukan kerja sama antara ayah dan ibu. Keduanya harus saling berbagi peran agar dapat memberikan dukungan yang optimal bagi tumbuh kembang anak," tuturnya.

Sebagai tindak lanjut, tim pelaksana kembali mengunjungi keluarga binaan pada 16 Mei 2026 untuk memantau penerapan hasil konsultasi dan aktivitas stimulasi yang telah dilakukan di rumah. 

Dalam kegiatan ini, fasilitator mengevaluasi perkembangan anak, mengamati perubahan interaksi antara orang tua dan anak, serta memberikan rekomendasi lanjutan sesuai kebutuhan masing-masing keluarga.

Untuk memastikan dampak program terus berlanjut, TSA Universitas Mulawarman juga membentuk Komunitas ASIK (Anak Sehat, Ibu Ayah Kuat) yang menjadi wadah berbagi informasi dan pendampingan bagi keluarga, kader kesehatan, serta fasilitator Rumah Anak SIGAP. 

Selain itu, tim menyusun booklet edukasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai panduan praktis dalam mendukung tumbuh kembang anak di rumah.

Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.