PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) membeberkan arah dan strategi pengembangan bisnisnya usai menggenggam proyek waste to energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Lampung.
Berdasarkan pengumuman Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia tahap II, konsorsium Bumi Biru Indonesia yakni SUS Environment Inc. dan anak usaha OASA, PT Indoplas Dewata Energi ditetapkan mitra terpilih untuk pengembangan proyek sampah menjadi energi listrik itu. Proyek jumbo itu dirancang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.167 ton sampah per hari.
Direktur Utama Maharaksa Biru Energi, Bobby Gafur Umar mengatakan pengembangan waste-to-energy membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, mitra teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Menurutnya, perkembangan proyek saat ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk mempercepat pembangunan fasilitas WtE di Indonesia.
“OASA berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan proyek-proyek yang tidak hanya menghasilkan solusi pengelolaan sampah yang lebih modern, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap transisi energi, pengurangan emisi, dan pembangunan yang berkelanjutan,” kata Bobby dalam keterangannya, Senin (20/7).
Sementara itu, pada proyek PSEL Tangerang Selatan, ia mengatakan perusahaan terus menyesuaikan pengembangan proyek dengan implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Penyesuaian ini sebagai bagian dari transisi menuju skema yang sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mempercepat pembangunan fasilitas waste-to-energy nasional sekaligus memperkuat dasar pengembangan proyek ke tahap selanjutnya.
“Kami akan terus menjaga disiplin dalam pelaksanaan proyek, memperkuat kemitraan strategis, dan menghadirkan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tambah Bobby.
Adapun proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Tangerang Selatan akan dikembangkan oleh Badan Usaha Pelaksana PT Indoplas Tianying Energy, yang merupakan kerja sama antara PT Indoplas Energi Hijau dengan kepemilikan 76% dan China Tianying Inc sebesar 24%. Proyek ini dialokasikan di atas lahan seluas 5,53 hektare.
PSEL Tangerang Selatan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 1.100 ton per hari, terdiri dari 1.000 ton sampah baru dan 100 ton sampah lama atau hasil penambangan. Dari pengolahan tersebut, fasilitas ini ditargetkan menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang 25 MW, gross output sebesar 23,14 MW, dan kapasitas bersih mencapai 19,62 MW.
Listrik yang dihasilkan akan dijual dengan tarif sebesar US$ 0,1335 per kWh untuk periode tahun pertama hingga tahun ke-30. Selain itu, proyek ini juga memperoleh pendapatan dari tarif pengolahan sampah atau tipping fee sebesar Rp 529.000 per ton.
Kemudian, total kebutuhan investasi proyek PSEL Tangerang Selatan mencapai Rp 2,30 triliun atau setara dengan US$ 139,9 juta, yang mencakup pembangunan fasilitas pengolahan, instalasi pembangkit, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Daya Tarik Proyek WtE
Sebelumnya Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir menghitung biaya investasi setiap proyek WTE berada dalam rentang Rp 2,3 triliun sampai Rp 3,2 triliun. Adapun biaya investasi yang dikeluarkan akan bergantung pada teknologi yang digunakan pemenang tender.
Dia menyampaikan daya tarik proyek WTE terletak pada kepastian biaya konstruksi dan jadwal pengoperasian akibat dukungan pemerintah daerah. Pandu menargetkan akan ada tujuh pembangkit listrik tenaga sampah berteknologi insinerator selambat-lambatnya April 2026 akibat bantuan lahan pemerintah daerah.
Pandu mencatat lahan yang disiapkan pemerintah daerah untuk tujuh PLTSa tersebut memiliki luas setidaknya 5 hektare. Selain itu, lahan tersebut telah memiliki infrastruktur konektivitas yang dapat menampung 300 truk berkapasitas sekitar 3 ton per unit.
Walau demikian, Pandu menyampaikan tujuan utama proyek WTE adalah pemberdayaan ekonomi daerah. Menurutnya, proyek tersebut akan mendorong dua faktor di setiap daerah, yakni pembukaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas lingkungan.
Pandu menjelaskan jumlah tenaga kerja yang terserap pada masa konstruksi sepanjang kuartal pertama tahun depan mencapai 4.500 orang per proyek. Dengan kata lain, total serapan tenaga kerja selama pembangunan tujuh proyek WTE mencapai 31.500 orang.
"Saat PLTSa berjalan, tentu serapan tenaga kerja turun, tapi akan tetap menyerap 270 sampai 330 orang selama 30 tahun ke depan di satu titik," katanya. Pandu menyampaikan PLTSa akan membuka lapangan kerja lokal di sektor lain, seperti logistik, perbaikan kendaraan, dan perawatan mesin.
Selain itu, Pandu menilai pengoperasian PLTSa dapat mendorong investasi di industri hijau lantaran energi hasil PLTSa merupakan energi baru terbarukan. Di sisi lain, Pandu menekankan tujuan utama proyek WTE adalah pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 80% dibandingkan penggunaan Tempat Pembuangan Akhir. Selain itu, PLTSa dapat mengurangi timbunan di TPA hingga 90%.