Purbaya Benarkan Panda Bond Kurangi Ketergantungan Dolar AS |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut penerbitan Panda Bond senilai sekitar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 17,9 triliun menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mendiversifikasi sumber pendanaan. Langkah itu juga sekaligus mengurangi ketergantungan RI terhadap dolar AS.

"Ini kan diversifikasi sumber pendanaan kita. Kan sebelumnya kalau global hanya dolar, kita diversifikasi ke Jepang maupun ke Australia, dan di China," kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Dia mengatakan, penggunaan mata uang yuan dalam transaksi dengan China juga dapat memperkuat skema transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT). Sehingga, ke depannya ketergantungan terhadap dolar AS dapat dikurangi.

"Dan saya akan pakai LCT, Local Currency Transaction. Sehingga mereka bayar Yuan, saya terima Rupiah di sini antarbank antar sentral bank," ujar Purbaya.

Menurut dia, strategi tersebut juga dapat membantu menjaga nilai tukar rupiah karena mengurangi tekanan yang bersumber dari kebutuhan terhadap dolar AS. "Rupiah akan cenderung menguat karena tekanan dari dolar ini. Jadi strategi itu memang sengaja dikembangkan untuk maksimalkan instrumen yang ada untuk menjaga nilai tukar rupiah," kata Purbaya.

Dia menjelaskan, penerbitan Panda Bond untuk tahap awal dibatasi sekitar 1 miliar dolar AS untuk memperkenalkan instrumen tersebut kepada pasar. Purbaya menyebut, pemerintah masih melihat hasil book building penerbitan tersebut sebelum mempertimbangkan penerbitan berikutnya dengan nilai yang lebih besar.

Purbaya mengatakan, dana yang dihimpun dari penerbitan Panda Bond akan digunakan untuk menutup sebagian kebutuhan pembiayaan defisit dan belanja pemerintah. Dia menyampaikan, penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari upaya memperluas sumber pembiayaan pemerintah agar tidak terlalu bergantung pada pasar dolar AS.