Raih Public Leadership Award, Wamen Fajar: ilmu harus bermuara pada pengabdian
Minggu, 2 Agustus 2026 12:43 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menerima Public Leadership Award dalam UMS Alumni Award 2026 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jawa Tengah, Sabtu (1/8/2026). ANTARA/Aris Wasita
Solo (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menerima Public Leadership Award dalam UMS Alumni Award 2026 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jawa Tengah, Sabtu.
Bagi Fajar, penghargaan itu bukan sekadar pengakuan atas perjalanan karier, melainkan juga pengingat bahwa ilmu dan kepemimpinan pada akhirnya harus kembali menjadi pengabdian.
Fajar menerima penghargaan atas rekam jejak, integritas, prestasi, kepemimpinan, serta kontribusinya bagi masyarakat dan bangsa. Namun, kembali ke UMS memiliki arti personal baginya. Ia merupakan alumnus Fakultas Agama Islam UMS yang juga menjalani proses pembentukan diri di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran.
“Saya hadir dengan amanah sebagai Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, tetapi sesungguhnya saya sedang pulang ke tempat yang ikut membentuk cara saya memahami pendidikan, keislaman, kemuhammadiyahan, dan Indonesia,” kata Fajar.
Kampus, menurut dia, memberinya ruang untuk membaca, bertanya, dan berjumpa dengan gagasan. Sementara Shabran mengajarkannya bahwa kecerdasan membutuhkan arah nilai. Dari pengalaman itulah tumbuh keyakinan bahwa pendidikan bukan hanya perkara apa yang diketahui seseorang, melainkan untuk apa pengetahuan itu digunakan.
Alumni sebagai kekuatan perubahan
Fajar menilai penghargaan bukan titik akhir perjalanan. Jabatan, gelar, dan penghargaan memiliki batas, sementara manfaat yang diberikan kepada masyarakat dapat hidup lebih panjang.
“Jabatan memiliki batas waktu. Penghargaan suatu saat menjadi arsip. Gelar akademik tinggal beberapa huruf di belakang nama. Yang lebih lama tinggal adalah jejak manfaat yang kita tinggalkan pada kehidupan orang lain,” ujarnya.
Menurut Fajar, tantangan Indonesia semakin kompleks. Kecerdasan buatan mengubah cara manusia belajar dan bekerja, kompetisi talenta semakin terbuka, sementara ketimpangan dan fragmentasi sosial masih menjadi pekerjaan bersama. Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya melahirkan orang pintar.
“Indonesia membutuhkan orang terdidik yang bersedia mengambil tanggung jawab,” katanya.
Alumni perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena berada di antara dunia pengetahuan dan kenyataan masyarakat. Mereka dapat menjadi jembatan antara ilmu dan persoalan nyata, antara gagasan dan kebijakan, serta antara kampus dan pembangunan.
Hingga Juni 2026 tercatat tak kurang dari 181.761 mahasiswa telah lulus dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam berbagai jenjang. Jumlah yang luar biasa dari sebuah kampus swasta yang telah eksis sejak 67 tahun yang lalu.
Dari Jejaring Menjadi Ekosistem
Fajar juga mengingatkan bahwa pendidikan tidak mungkin menjadi pekerjaan pemerintah semata. Sekolah dan guru memang memegang peran penting, tetapi anak juga tumbuh melalui keluarga, lingkungan sosial, ruang digital, dunia kerja, serta keteladanan orang dewasa.
“Pendidikan adalah urusan semua orang, karena masa depan bangsa adalah urusan semua orang,” ujarnya.
Dalam konteks itu, Fajar mendorong alumni UMS mengubah kekuatan jejaring menjadi ekosistem kolaborasi. Semboyan IKA UMS, Reconnect, Share, Together, perlu diwujudkan melalui berbagi pengetahuan, pengalaman, kesempatan, dan jejaring untuk menjawab persoalan masyarakat.
“Tantangan kita adalah mengubah jejaring menjadi ekosistem; mengubah nostalgia menjadi kolaborasi; dan mengubah kebanggaan terhadap almamater menjadi kerja bersama,” kata Fajar.
Peran tersebut, menurut dia, semakin penting menuju Indonesia Emas 2045. Anak-anak yang hari ini berada di SD, SMP, dan SMA akan menjadi generasi utama Indonesia dua dekade mendatang. Karena itu, alumni dapat mengambil peran konkret sebagai mentor, membuka kesempatan magang, mendekatkan sekolah dengan dunia profesi, berbagi pengetahuan dengan guru, serta membawa inovasi perguruan tinggi ke tengah masyarakat.
“2045 bukan janji sejarah. Ia adalah hasil dari keputusan yang kita ambil hari ini. Kita harus bergerak dari alumni sebagai jaringan sosial menjadi alumni sebagai kekuatan pembangunan,” ujarnya.
Fajar menutup pesannya dengan mengajak alumni mengukur keberhasilan bukan semata dari tingginya posisi yang dicapai, tetapi dari manfaat yang ditinggalkan.
“Dari UMS kita bertumbuh. Di tengah masyarakat kita mengabdi. Dan kepada Indonesia, ilmu itu kita kembalikan,” kata Fajar.
Selain Wamen Fajar, UMS alumni award juga diberikan kepada beberapa alumni UMS dengan berbagai pencapaianya. Pada deretan tersebut terdapat Bupati Karanganyar Rober Cristanto dan Puger Mulyono yang dikenal sebagai aktifis pendamping anak-anak pengidap HIV di Jawa Tengah.
“Penerima UMS alumni award ini menunjukkan kiprah penting para alumni di tengah masyarakat dengan berbagai keahliannya. Peran alumni sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan UMS hari ini dan di masa depan,” kata Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.