Bengkulu (ANTARA) - Perkembangan teknologi informasi dan masifnya penggunaan media sosial membuat berbagai perilaku yang muncul menjadi tren di satu tempat, dengan cepat ditiru dan menjalar ke daerah lain.
Tren, seperti geng motor, contohnya, atau tindakan perundungan, kekerasan antarremaja, hingga berbagai perilaku menyimpang, dengan mudah menyebar lewat ruang digital, dan dikhawatirkan membentuk pola karakter negatif di kalangan anak muda.
Pada usia remaja, para pelajar masih mencari jati diri, sehingga rentan terhadap pengaruh lingkungan. Apa yang dilihat dan saksikan tidak selalu mampu disaring secara kritis. Tak sedikit anak terdorong mengikuti satu tren tanpa memahami sebab akibat dari tindakan mereka, hanya karena perilaku itu di kalangan muda dianggap keren atau mendapat perhatian lebih.
Kondisi itu pula yang akhirnya menimbulkan keresahan, para orang tua khawatir terhadap pergaulan yang berdampak pada moral anak-anak mereka, tenaga pendidik dihadapkan dengan dilema apakah harus menanamkan sikap disiplin dengan memberikan teguran, atau tetap diam karena juga khawatir akan menimbulkan konsekuensi pada diri mereka.
Sementara, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab yang tak mudah dalam memastikan keamanan ketertiban daerah tetap kondusif agar tak berimbas ke banyak lini kehidupan, perekonomian, politik, sosial dan ketentraman daerah.
Keluarga memang merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi seorang anak, namun ternyata tidak semua orang tua mampu menghadapi perubahan perilaku anak di tengah derasnya pengaruh lingkungan dan arus media digital. Bahkan, ada orang tua yang merasa membutuhkan bantuan pemerintah untuk dapat membina anak-anak mereka agar tak terjerumus dalam perilaku buruk.
Keresahan itu yang dibaca Pemerintah Provinsi Bengkulu, kemudian memikirkan pola pembinaan yang lebih terarah bagi para generasi muda daerah. Salah satu gagasan awal yang sempat mengemuka yakni pendidikan dan pelatihan berjangka berbasis barak bagi anak-anak yang membutuhkan pembinaan kedisiplinan dan karakter.
Dalam perkembangannya, Pemerintah Provinsi Bengkulu menemukan bentuk yang lebih cocok untuk diaplikasikan pada generasi muda di daerah itu. Pembinaan dikembangkan dalam bentuk pendidikan karakter yang tidak hanya berbicara mengenai kedisiplinan dan ketertiban, tetapi juga tentang aspek spiritual, moral, dan sosial.
Kemudian, lahirlah gagasan program pembinaan yang diberi nama "Retret Merah Putih" bagi para pelajar. Retret ditempatkan sebagai salah satu pendekatan pembinaan karakter pelajar di Bengkulu.
Para pelajar diwajibkan mengikuti kegiatan selama tiga hingga enam hari, dengan menginap di rumah ibadah, sesuai agama masing-masing pelajar. Mereka menjalani aktivitas bersama, belajar, berdiskusi, beribadah, mendapatkan pendidikan agama, norma-norma, kedisiplinan, melakukan perenungan diri, hingga kegiatan keakraban.
Hal-hal sederhana tersebut bertujuan untuk menanamkan pesan sosial dan moral pada pelajar, melepaskan mereka dari sekat-sekat dalam pergaulan, mengenal teman lebih dekat, dan merasakan pengalaman hidup aktivitas bersama. Kedekatan itu diharapkan menjadi salah satu pintu untuk membangun rasa saling menghargai, sekaligus mencegah perundungan.
Lebih jauh, retret juga diarahkan untuk membangun kesadaran beribadah dan menanamkan nilai moral yang membuat pelajar tidak hanya diberi tahu mana yang benar dan salah, tetapi juga diajak memahami alasan di baliknya. Mereka juga dibiasakan muhasabah (mengevaluasi diri), melihat kembali perilaku yang pernah dilakukan, kemudian menganalisis sebab dan dampaknya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pemikiran tentang pendidikan karakter yang dipaparkan Fadilah dkk. dalam buku berjudul Pendidikan Karakter. Fadilah mengutip gagasan Ryan dan Bohlin bahwa karakter memiliki tiga unsur pokok, yaitu “mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, dan melakukan kebaikan”.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa mengetahui kebaikan belum tentu membuat seseorang otomatis melakukan kebaikan. Pengetahuan perlu tumbuh menjadi kesadaran dan kecintaan terhadap nilai yang baik, sebelum diwujudkan dalam tindakan. Dalam konteks tersebut, "Retret Merah Putih" bagi pelajar Bengkulu dapat menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan, kesadaran, dan tindakan.
Merujuk konteks pendidikan karakter, pelajar diarahkan untuk mampu mengetahui benar salah dari tindakan mereka, kemudian memahami dampak dan apa konsekuensi dari tindakan tersebut.
Anak perlu dibekali kemampuan menganalisis akibat dari pilihan yang dibuat, sehingga mampu berpikir sebelum bertindak, dengan itu mereka dapat memproteksi diri ketika menghadapi ajakan negatif dari lingkungan pergaulan atau media sosial.
Retret juga membuka ruang dialog antara pelajar dan pemerintah melalui kegiatan seperti "Gubernur Menyapa". Pelajar tidak hanya ditempatkan sebagai peserta yang menerima arahan, tetapi diberikan kesempatan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Di ajang itu, mereka belajar menyampaikan pendapat bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dapat dilakukan secara santun dan bertanggung jawab.
Dari sejumlah pelaksanaan "Retret Merah Putih", Pemerintah Provinsi Bengkulu kemudian melihat pembinaan karakter tersebut memiliki nilai positif bagi pelajar. Pada MPLS tahun ajaran baru 2026, retret dihadirkan sebagai bagian dari rangkaian pembinaan pelajar.
Sebanyak 10.689 siswa SMA dan SMK di Provinsi Bengkulu telah menyelesaikan rangkaian MPLS 2026. Skala tersebut menunjukkan luasnya ruang untuk menanamkan nilai karakter sejak awal siswa memasuki lingkungan pendidikan baru.
Meskipun demikian, "Retret Merah Putih" tentu juga perlu dilihat secara proporsional. Program ini belum dapat disimpulkan apakah benar-benar efektif mengubah atau memperbaiki karakter setiap anak yang mengikutinya.
Hal tersebut karena pembentukan karakter merupakan proses panjang yang dipengaruhi keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, ruang digital dan kehadiran orang-orang dewasa di sekitar anak. Karena itu, perubahan karakter tidak dapat diukur hanya dari keberhasilan seorang pelajar mengikuti kegiatan selama tiga, hingga enam hari saja.
Hanya saja, kabar baiknya, Pemerintah Provinsi Bengkulu melihat dari sudut pandang serupa dengan membangun retret tidak hanya sekali saja, tapi dibuat menjadi kegiatan berulang. Para siswa, mendapatkan retret awal bersamaan dengan kegiatan MPLS, kemudian mereka secara periodik akan kembali mendapat giliran retret-retret lanjutan.
Retret berulang bagi siswa tentu dapat menjadi wadah pengingat, sekaligus terus menuntun anak agar tetap berada pada pandangan hidup yang tepat. Ruang pembinaan semacam itu dapat menjadi momentum pengingat ketika generasi muda mulai menjauh atau lalai dari karakter yang diharapkan.
"Retret Merah Putih" mungkin terlihat sederhana, namun upaya yang diselipkan dalam kegiatan itu menjadi langkah nyata dalam menanamkan karakter positif dan produktif bagi para pelajar, memagari mereka agar tidak terjerumus pada tindakan berbahaya pada periode penemuan jati diri.
Mencegah seorang remaja terjerumus ke dalam kenakalan, kekerasan, perundungan, atau bahkan tindak pidana jauh lebih berharga daripada memperbaiki keadaan, setelah semuanya terlambat. Untuk mencapai tujuan pencegahan itu, anak terkadang perlu terus diingatkan, dituntun, bahkan dipapah ketika mulai kehilangan arah.
"Retret Merah Putih" dapat menjadi salah satu bagian dari proses tersebut, ruang untuk berhenti sejenak, melakukan muhasabah, belajar memahami benar dan salah, melihat sebab akibat, lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan arah yang lebih baik.
"Retret Merah Putih" menjadi investasi kecil membangun generasi emas. Tak jarang, upaya dengan langkah kecil atau sederhana diperlukan untuk membuat sebuah perubahan besar.
Pewarta: Boyke Ledy Watra
Uploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.