Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso dengan Menteri Investasi dan Perdagangan Luar Negeri Mesir, Mohamed Farid Saleh di sela Pertemuan Menteri Perdagangan BRICS (BRICS Trade Ministers' Meeting) di Jaipur, India.
Baca Juga: Investor Singapura Terpikat Dirikan Bangunan Peristirahatan di Free Trade Zone Riau
Dalam pertemuan itu, Indonesia juga mengusulkan agar Pertemuan ke-2 Joint Trade Committee (JTC) Indonesia-Mesir dapat digelar pada tahun ini sebagai langkah awal mempercepat dimulainya negosiasi perdagangan.
"Kami mengapresiasi telah terlaksananya pertemuan perdana JTC Indonesia dan Mesir pada 2024. Kami berharap komitmen perdagangan dan investasi kedua negara dapat makin diperkuat dengan segera dimulainya perundingan dalam skema PTA dan FTA. Untuk mempercepat dimulainya perundingan tersebut, Indonesia mendorong agar pertemuan JTC kedua dapat dijadwalkan pada 2026," kata Menteri Perdagangan, Budi Santoso dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Budi, pemerintah juga mengusulkan komunikasi intensif melalui pertemuan daring agar berbagai pembahasan teknis tidak harus menunggu pertemuan tatap muka.
Skema tersebut diharapkan dapat mempercepat penyelesaian berbagai isu yang menjadi prasyarat dimulainya negosiasi perdagangan.
Dorongan menuju PTA dan FTA bukanlah langkah yang muncul secara tiba-tiba. Pada pertemuan perdana JTC tahun 2024, kedua negara telah sepakat mengeksplorasi pembentukan perjanjian perdagangan bilateral guna meningkatkan arus perdagangan dan investasi.
Komitmen tersebut kemudian diperkuat melalui Pernyataan Bersama Kemitraan Strategis yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi pada 12 April 2025.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia telah menyerahkan Terms of Reference (TOR) kepada pemerintah Mesir pada 10 Oktober 2025. Pemerintah juga mengirimkan usulan peluncuran perundingan beserta rancangan Joint Ministerial Statement pada 4 November 2025.
Baca Juga: Jaga Daya Beli, Kemendag Bidik Transaksi ISF 2026 Tembus Rp38 Triliun
Dari pihak Mesir, Menteri Mohamed Farid Saleh menyatakan pemerintahnya siap mempercepat proses tersebut. Bahkan, Mesir membuka peluang agar pembahasan PTA dan FTA dilakukan secara paralel dengan melibatkan kalangan dunia usaha.
"Kami terbuka dengan pendekatan pada perjanjian dagang. Kami tidak keberatan jika Indonesia ingin melakukan persiapan secara bertahap sebelum memulai perundingan dengan skema PTA dan FTA. Kita bisa melakukan perundingan Indonesia-Egypt PTA dan Indonesia-Egypt FTA secara paralel dan melibatkan sektor swasta untuk mempercepat hal ini," ujar Mohamed.
Selain mendorong percepatan perundingan perdagangan, Mesir juga mengusulkan pembentukan joint venture di sektor industri pakaian jadi (readymade garments).
Pemerintah Mesir juga mengusulkan pertemuan daring yang mempertemukan pelaku usaha kedua negara untuk meningkatkan perdagangan produk pertanian.
Dorongan mempercepat perundingan perdagangan tersebut sejalan dengan kinerja perdagangan Indonesia dan Mesir yang terus menunjukkan pertumbuhan.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, nilai perdagangan kedua negara mencapai USD1,74 miliar. Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia ke Mesir mencapai USD1,09 miliar, sedangkan impor dari Mesir sebesar USD647,7 juta, sehingga Indonesia kembali mencatat surplus perdagangan.
Pada 2025, total perdagangan Indonesia dan Mesir mencapai USD2,38 miliar, meningkat dengan tren pertumbuhan rata-rata 6,16% dalam lima tahun terakhir (2021–2025).
Indonesia juga menikmati surplus perdagangan yang cukup besar, yakni USD1,50 miliar, setelah nilai ekspor mencapai USD1,94 miliar, sementara impor dari Mesir tercatat USD439,8 juta.
Struktur perdagangan kedua negara masih didominasi komoditas primer dan bahan baku industri. Indonesia mengekspor produk seperti lemak dan minyak nabati maupun hewani, kopi, teh dan rempah-rempah, mesin serta peralatan listrik, bahan kimia anorganik, hingga aluminium.
Di sisi lain, Indonesia mengimpor pupuk, garam, belerang, kapur, buah-buahan, sayuran, serta bijih dan abu logam dari Mesir.
Percepatan negosiasi PTA dan FTA diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk Indonesia, sekaligus menurunkan berbagai hambatan perdagangan yang selama ini masih dihadapi eksportir.