Ribuan pelajar Jambi deklarasi tolak paham menyimpang di ruang digital - ANTARA News Jambi

Sarolangun, Jambi (ANTARA) - Ribuan pelajar di Kabupaten Sarolangun, Jambi mendeklarasikan diri menolak paham menyimpang di ruang digital (True Crime Community) dan ancaman intoleran, radikalisme, ekstremisme dan terorisme (IRET). 

"Komitmen bersama mesti dimulai dari lingkungan sekolah. Ruang digital ada yang menjadikan sebagai sarana penyebaran paham radikal, propaganda kekerasan, hingga kejahatan melalui komunitas tertentu," kata Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani saat sosialisasi akbar pencegahan paham IRET di Sarolangun, Kamis.

Ia menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), jumlah pengguna internet saat telah mencapai 221 juta orang atau 79,5 persen dari total populasi Indonesia. 

Tingginya jumlah pengguna internet memberikan dampak positif dan negatif, salah satu dampak buruk dari pemanfaatan dunia digital adalah mudahnya paham menyimpang dalam mempengaruhi pola pikir pelajar, seperti kasus perundungan di sekolah.

Kemudian merujuk data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), pada 2025 tercatat 641 kasus perundungan secara nasional, sebesar 57 persen terjadi di lingkungan sekolah. Sementara di Provinsi Jambi, persentasenya mencapai 0,49 persen.

"Angka itu cukup memprihatinkan, karena berdampak pada kesehatan mental, prestasi belajar, bahkan masa depan anak-anak," ujar Wagub.

Oleh karena itu, Abdullah Sani mengajak elemen pemerintah, aparat keamanan, lembaga pendidikan, dan masyarakat bersinergi mencegah penyebaran paham tersebut, khususnya di kalangan pelajar.

"Mari kita perkuat komitmen, tingkatkan kepedulian, dan wujudkan lingkungan pendidikan yang aman, damai, dan berkarakter untuk masa depan Jambi serta Indonesia yang lebih baik," imbaunya. 

Sementara itu, Bupati Sarolangun Hurmin dalam kesepakatan itu mengajak seluruh pelajar di Kabupaten Sarolangun untuk mengikuti sosialisasi akbar pencegahan paham IRET, dan perundungan di lingkungan pendidikan dengan sungguh-sungguh.

Menurutnya, generasi muda saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, mudah terpapar paham radikal melalui media sosial, ajakan bergabung ke komunitas negatif, hingga kasus perundungan dan narkoba di lingkungan sekolah.

"Anak-anak kita adalah penerus bangsa jangan sampai masa depan mereka rusak karena salah pergaulan, terjerumus narkoba, atau terpapar paham radikalisme dan terorisme. Ikuti sosialisasi ini dengan sungguh-sungguh, serap ilmunya, dan jadilah pelajar yang cerdas," katanya.

Pewarta: Agus Suprayitno
Editor : Siri Antoni

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.