Rupiah melemah seiring respons negatif atas defisit transaksi berjalan - ANTARA News Jawa Timur

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin bergerak melemah 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.721 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi respons negatif pasar atas defisit transaksi berjalan Indonesia yang melebar pada triwulan II 2026 menjadi 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan defisit pada triwulan sebelumnya yang tercatat 3,6 miliar dolar AS atau 1 persen PDB. Pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang diprakirakan bersifat temporer, salah satunya adalah kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia,” ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Walaupun transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit, lanjut dia, kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan tetap terjaga.

Pada triwulan II 2026, NPI mencatat defisit 900 juta dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan defisit 9,1 miliar dolar AS pada triwulan I 2026. Perbaikan tersebut ditopang transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus 12 miliar dolar AS, setelah pada triwulan sebelumnya mengalami defisit 4,8 miliar dolar AS.

“Namun, para analis memperingatkan bahwa kesenjangan transaksi berjalan Indonesia ini, mungkin akan terus berlanjut seiring dengan tetap tingginya harga minyak mentah, volume impor minyak yang tetap kuat, serta melemahnya ekspor akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan terus meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran serta Rusia dan Ukraina di Eropa Timur,” ujar dia.

Di samping itu, aktivitas bisnis di sektor jasa AS tercatat solid, dengan indeks PMI Jasa S&P Global AS bulan Agustus melampaui perkiraan angka 54 dengan mencapai 56,8 yang merupakan level tertinggi sejak Desember 2024, jauh melampaui angka 54,6 pada bulan sebelumnya.

Kendati begitu, PMI Manufaktur melambat dari 53,9 menjadi 53,2, yang menjadi level terendah dalam lima bulan.

“Di sisi lain, kekhawatiran akan inflasi akibat harga energi di tengah ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dapat memicu kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) dalam beberapa bulan mendatang,” kata Ibrahim.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak menguat di level Rp17.703 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.705 per dolar AS.

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.