Bandung (ANTARA) - Jika mendengar kata PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), maka saya selalu teringat nama Mahbub Junaidi, Rosihan Anwar dan Atang Ruswita. Meski mantan Ketua PWI lainnya banyak.
Mahbub Junaidi bukan sekadar Ketum PB PMII, namun tulisannya yang tajam dan jenaka, seperti kata Goenawan Muhammad (Pendiri Tempo) dalam "Kolom Demi Kolom: Humor-Humor Bernas Sang Maestro" membuat "iri hati" dirinya, karen mampu memadukkan kecerdasan dan perumpamaan tak terduga.
Rosihan Anwar, cerita yang membekasnya untuk saya adalah saat Dia lebih memilih memimjam buku saat remaja, daripada makan Nasi Padang yang sebernarnya cukup untuk membelinya.
Saat rubrik "opini" di HU Kompas selalu ditunggu, salah satunya tulisan Rosihan Anwar yang dinanti. Pasti, tercantum sebagai Wartawan Senior. Bukunya puluhan, saya menyimak saksama dalam Buku "Sang Pelopor: Anak Bangsa dalam Pusaran Sejarah" yg berjilid-jilid. Tentu buku-buku Jurnalistiknya pun banyak, dan tentu sebagai wartawan (pada saat itu), Saya ikut menikmati karyanya.
Atang Ruswita, tidur di pelataran Mesjid Cipaganti, jika malam tiba, setelah dagang koran. Dinukilkan dengan baik oleh Her Suganda (Wartawan Senior Kompas) dalam Buku "Jendela Bandung: Pengalaman bersama Kompas". Lalakon panjang mendirikan Pikiran Rakyat (PR) bersama Sakti Alamsyah tentu menjadi kunci utama perkembangan pers, termasuk nasional.
Kepak sayap PR, bukan saja dalam dunia pers, namun menjelajah memberikan pembinaan pada sepak bola, termasuk klub-klub di bawah binaan Persib Bandung. PR secara periodik dan simultan menggelar kompetisi resmi. Targetnya, menjaring pemain-pemain lokal berkualitas. Saat itu, Marek Jonata (Polandia) yang menjadi leadernya. Hasilnya zaman Adjat Sudrajat, Robby Darwis, Adeng Hudaya dan yang lainnya menjadi pemain dan tim yang mengerikan.
Klub-klub seperti UNI, Sidolig, Setia, atau Propelat menjadi bagian dari internal Persib yang selalu bersaing. Abaikan tempat Padel di Kota Bandung yang ramai karena menebang beberapa pohon di Jalan Riau Bandung. Itu bekas kantor Propelat yang sudah dipugar.
Oh ya, Stadion UNI pun sekarang sudah jadi Apartemen Asia Afrika di Jalan Karapitan Bandung. Stadion Sidolig saja sekarang yang masih ada, karena sudah dikelola dan milik Pemkot Bandung. Yang biasa disebut Stadion Persib, Jalan A. Yani Bandung.
Haduuuh, mun geus ngomong Persib, jadi sok kamana wae...
Weelll... Bro Tantan, selamat jadi Ketua PWI Jabar, (meskipun sekarang kita sudah sama-sama tidak gondrong, bukan berarti perlawanan kita padam. Pasti ke istri saja perlawanan kita yang padam, semoga tetap mencerahkan dan selalu berpihak pada kaum mustad'afin, kaum papa, kaum periperal, kaum dhuafa dan kaum tertidas lainnya yang diakibatkan struktur kekuasaan.
Ingat kata Napoleon Bonaparte, "Satu Pena Lebih Berbahaya daripada Seribu Bayonet".
Perjalanan Subang-Sumedang, ngetik pake HP di WA
14 Agustus 2026.
Zaini Shofari (Ketua Fraksi PPP DPRD Jabar)
Pewarta: Zaini Shofari (*)
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.