Sejak masuk Sekolah Rakyat, Citra semakin rajin belajar dan rajin shalat. Saya bangga sekali dia bisa masuk di Sekolah Rakyat
Jakarta (ANTARA) - Hajrah, seorang ibu tunggal sekaligus buruh rumah tangga asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, menggantungkan harapan besar agar putrinya, Citra Nur Rahmadani (10), dapat meraih masa depan cerah setelah menimba ilmu di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 67.
Di tengah perjuangan membesarkan anak seorang diri setelah suami meninggal akibat sakit, Hajrah harus bekerja keras menyapu masjid di pagi hari dan berlanjut menjadi buruh cuci demi mencukupi kebutuhan keluarga.
"Sakit karena kita sendiri yang cari uang. Citra itu waktu meninggal bapaknya sedih, karena dia lengket sama bapaknya," kata Hajrah, seperti dikutip dari keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) di Jakarta, Jumat.
Sebelum bergabung di Sekolah Rakyat, perjalanan hidup Citra diwarnai serba keterbatasan. Citra kerap membantu sang ibu berjualan kacang sepulang sekolah, hingga sempat menarik diri akibat menjadi korban perundungan (bullying) di lingkungan sekolah terdahulu.
Baca juga: Kisah Citra siswi Sekolah Rakyat yang prestasinya dibanggakan Presiden
Perubahan signifikan pada diri Citra mulai terlihat setelah ia menjadi bagian dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 67 Pangkep. Lingkungan pendidikan yang inklusif dan suportif perlahan mengembalikan rasa percaya diri dan kemandirian siswi berusia 10 tahun tersebut.
"Sejak masuk Sekolah Rakyat, Citra semakin rajin belajar dan rajin shalat. Saya bangga sekali dia bisa masuk di Sekolah Rakyat," ujar Hajrah mengungkapkan kebahagiaannya.
Melihat perkembangan positif sang putri, Hajrah membulatkan tekad agar Citra terus melanjutkan pendidikan setinggi mungkin guna memutus rantai kemiskinan keluarga.
"Citra harus lebih sukses, tidak seperti Mama," ucap Hajrah menegaskan harapannya.
Merespons perjuangan tanpa lelah sang ibu, Citra menyampaikan rasa terima kasih dan kasih sayangnya atas keteguhan Hajrah yang terus menjaga keluarga sejak kepergian ayahnya.
Baca juga: MPR: Sekolah Rakyat kesungguhan pemerintah jamin akses pendidikan
"Mama, terima kasih karena telah membesarkan dan menjaga kami semenjak kepergian bapak. Saya sangat berterima kasih atas perjuangan mama. Terima kasih mama, aku sayang mama," tutur Citra.
Sekolah Rakyat merupakan program prioritas nasional yang menyasar anak-anak dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah yang berada pada Desil 1 hingga 4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Program pendidikan berbasis asrama yang ditangani oleh Kementerian Sosial (Kemensos) itu dirancang sebagai strategi pengentasan kemiskinan terpadu dengan mengintegrasikan pendidikan, kesehatan, gizi, dan pemberdayaan sosial ekonomi keluarga.
Dalam implementasinya, Sekolah Rakyat terhubung dengan berbagai program pemerintah, antara lain Cek Kesehatan Gratis (CKG), Makan Bergizi Gratis (MBG), jaminan kesehatan PBI-JK, Koperasi Desa Merah Putih, serta Program 3 Juta Rumah bagi keluarga siswa penerima manfaat.
Integrasi tersebut bertujuan memastikan anak-anak dari keluarga prasejahtera dapat belajar tanpa dibebani persoalan ekonomi dan kesehatan.
Baca juga: Tiga Sekolah Rakyat di Sulsel segera gelar MPLS setelah gedung selesai
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.