Salah satu korban merupakan seorang anak berusia empat tahun yang mengalami luka bakar tingkat dua akibat serangan tersebut.
Arab Saudi Sebut Houthi Serang Target Sipil
Mayor Jenderal Al Maliki menuding Houthi melakukan serangan secara membabi buta dengan menargetkan fasilitas sipil, sehingga melanggar hukum humaniter internasional.
Menurutnya, koalisi militer akan terus mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi warga sipil dan menjaga keamanan wilayah Kerajaan Arab Saudi dari ancaman serangan lanjutan.
Hingga kini, kelompok Houthi belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan tersebut.
Serangan Houthi Meningkat di Tengah Memanasnya Konflik
Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi meningkatkan intensitas serangan terhadap Arab Saudi maupun pasukan pemerintah Yaman.
Pada Selasa lalu, kelompok itu mengklaim telah menyerang Bandara Najran di Arab Saudi sebagai bagian dari operasi militer yang juga menyasar instalasi militer, infrastruktur strategis, serta jalur pelayaran di wilayah Kerajaan. Namun, sejumlah klaim Houthi sebelumnya kerap dinilai berlebihan oleh pihak Arab Saudi.
Pada hari yang sama dengan serangan di Najran, Houthi juga dilaporkan menewaskan sedikitnya 45 tentara pemerintah Yaman dalam serangan di Provinsi Marib dan Hadhramaut.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan kelompoknya meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke kamp militer yang ditempati Divisi Darurat Pertama dan Ketiga yang didukung Arab Saudi.
Kelompok tersebut mengklaim serangan itu menyebabkan ratusan korban jiwa dan luka-luka serta menghancurkan kamp, gudang senjata, dan kendaraan militer. Mereka juga menyerukan agar pasukan Yaman yang berpihak kepada Arab Saudi meninggalkan posisi mereka.
Gencatan Senjata Mereda, Konflik Kembali Memanas
Hubungan militer antara Arab Saudi dan Houthi sempat mereda setelah kesepakatan yang dicapai pada 2022. Namun, situasi kembali memburuk dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal Saudi di Laut Merah dan fasilitas energi milik Kerajaan.
Houthi mengklaim serangan tersebut merupakan respons atas apa yang mereka sebut sebagai blokade Arab Saudi terhadap wilayah yang mereka kuasai, termasuk pelabuhan dan Bandara Internasional Sanaa.
Sebagai respons, Arab Saudi memperkuat sistem pertahanannya dengan membentuk aliansi maritim internasional untuk mengamankan Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb, dua jalur pelayaran yang sangat penting bagi ekspor dan perdagangan negara itu.
Pada Kamis, Kementerian Pertahanan Arab Saudi juga mengumumkan penunjukan Mayor Jenderal Abdullah Al Shehri sebagai komandan aliansi maritim tersebut.
Intelijen Ungkap Potensi Serangan Terkoordinasi
Seorang pejabat senior Arab Saudi mengungkapkan bahwa hasil koordinasi intelijen antara Arab Saudi, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Timur Tengah menunjukkan adanya indikasi Houthi bersama kelompok milisi di Irak, di bawah koordinasi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), tengah mempersiapkan serangan terkoordinasi terhadap sejumlah lokasi sipil strategis.
Pemerintah Arab Saudi sebelumnya juga menyatakan bahwa beberapa serangan yang berhasil digagalkan sejak pecahnya konflik dengan Iran pada Februari lalu diduga diluncurkan dari wilayah Irak.
Pekan lalu, Arab Saudi bersama Amerika Serikat bahkan melancarkan serangan terhadap kelompok milisi yang didukung Iran di Irak sebagai bagian dari upaya menekan ancaman keamanan regional.
Di tengah meningkatnya eskalasi, Riyadh juga terus memperkuat kerja sama pertahanan dengan negara-negara mitra. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif tiba di Arab Saudi pada Kamis untuk melakukan kunjungan resmi, sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dijadwalkan bertemu Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada Jumat guna membahas isu keamanan dan stabilitas kawasan.
Sumber: National