matamata.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa program konversi kompor Liquefied Petroleum Gas (LPG) menjadi kompor listrik saat ini masih dalam tahap uji coba teknis dan efisiensi.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa uji coba tersebut melibatkan berbagai instansi pemerintah dan perguruan tinggi.
"Ini baru dites. Kita baru tes (kompor listrik) di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa (BBSP). Jadi, kami bekerja sama dengan tim PT PLN (Persero) serta universitas seperti UGM dan ITB," kata Eniya di Jakarta, Senin (20/7).
Lebih lanjut, Eniya memaparkan bahwa Kementerian ESDM juga berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk menguji efisiensi dari berbagai jenis kompor listrik yang beredar.
Hasil dari uji coba ini akan menjadi landasan untuk menghitung rata-rata konsumsi listrik bulanan dan estimasi harga perangkat kompor.
"Berdasarkan itu nanti kita hitung konsumsinya per bulan, lalu kira-kira berapa harganya. Bagaimana konsep regulasinya nanti akan kita bahas lebih lanjut dengan Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia)," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan kompor listrik berdaya di bawah 900 Volt Ampere (VA) untuk menyasar sektor rumah tangga. Program ini dirancang sebagai langkah strategis menekan ketergantungan impor LPG.
Guna melancarkan program tersebut, pemerintah telah mengusulkan anggaran sebesar Rp815,56 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Wacana transisi ke kompor listrik sejatinya bukan hal baru. Pada September 2022 silam, PT PLN (Persero) sempat membatalkan program pengalihan kompor LPG 3 kilogram (kg) ke kompor listrik demi menjaga stabilitas dan pemulihan ekonomi masyarakat pascapandemi COVID-19.
Namun, desakan untuk merealisasikan konversi ini kembali mencuat seiring dengan fluktuasi harga energi global. Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno sebelumnya turut mendorong pemerintah segera merealisasikan transisi dari kompor gas ke kompor listrik.
Eddy menilai, biaya transisi ke kompor listrik jauh lebih efisien dibandingkan dengan anggaran negara yang terus terkuras untuk subsidi impor LPG. Ia juga menyoroti kerentanan harga LPG yang sangat dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. (Antara)