Sorak penonton Indonesia di Piala Dunia putar ekonomi triliunan rupiah - ANTARA News Kalimantan Timur

Piala Dunia 2026 tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan besar dan pemilik merek nasional, tapi juga bagi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif

Samarinda (ANTARA) - Peluit panjang bergema, membelah riuh sorak yang meledak seketika. Di layar raksasa yang dipasang di lapangan balai kampung, di televisi layar lebar yang memenuhi sudut kedai kopi, hingga di layar sederhana di ruang tamu warga pelosok, bola meluncur deras menuju gawang. 

Ribuan pasang mata terpaku, napas tertahan bersama, lalu saat jaring bergoyang, teriak kebahagiaan seolah membelah angkasa, tepuk tangan bersahut-sahutan hingga membuat dinding bergetar. 

Tak ada yang persoalkan gender, tak ada sekat status, tak ada beda jauh dekat, di momen itu, semua adalah satu bangsa yang bersorak bersama. 

Di balik riuhnya gelora sepak bola Piala Dunia FIFA 2026, ada perputaran roda ekonomi, ada aliran rezeki yang menghangatkan kehidupan segenap pelaku usaha dalam negeri.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyampaikan, kehadiran ajang olahraga paling bergengsi ini telah membawa dampak luar biasa bagi perekonomian nasional.

Berdasarkan kajian mendalam yang disusun khusus untuk perhelatan ini, rangkaian Piala Dunia baik yang terlihat lewat layar kaca maupun yang tumbuh subur di tengah keramaian masyarakat, telah memutar ekonomi langsung maupun tidak langsung yang menembus angka Rp5,03 triliun. 

Angka yang begitu besar ini bukan sekadar deretan angka di atas kertas laporan, melainkan denyut nadi kehidupan yang berdetak lebih kencang di setiap sudut negeri.

Nilai besar ini dihitung dari segala langkah yang diambil sejak hari-hari persiapan dimulai, hingga detik peluit akhir pertandingan penutup bergema di seluruh dunia.

Mulai dari aktivitas penyiaran yang tak kenal lelah, belanja iklan yang menyapa jutaan penonton, dukungan sponsor dan promosi merek yang berjejer, hingga lonjakan penjualan televisi, proyektor, dan barang dagangan bertema Piala Dunia. 

Tak kalah besar pula perputaran dana yang mengalir ke hotel, restoran, kafe, warung makan pinggir jalan, keramaian nonton bareng yang memadati setiap ruang terbuka, hingga larisnya dagangan ribuan pelaku UMKM di beragam acara pendukung, termasuk meriahnya Festival Rakyat 2026 yang digelar di berbagai provinsi.

Kajian ini menegaskan satu hal penting, manfaat ekonomi Piala Dunia tidak hanya berputar di sekitar penyelenggaraan pertandingan, tidak hanya dirasakan oleh pihak yang mengurus acara atau perusahaan besar.

Sebaliknya, berkah ini menyebar luas ke berbagai sektor usaha, menyentuh beragam lapisan masyarakat, hingga menjangkau daerah-daerah yang jauh dari pusat keramaian sekalipun. 

Ekonomi lintas batas

Sepak bola yang dicintai ini ternyata mampu menjadi jembatan yang menghubungkan satu sama lain, menggerakkan roda ekonomi yang tadinya berjalan pelan menjadi lebih cepat dan bersemangat.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah Kukrit Suryo Wicaksono, menyampaikan bahwa Piala Dunia 2026 menjadi bukti nyata sekaligus contoh paling indah tentang bagaimana sebuah ajang olahraga internasional mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lintas batas dan lintas sektor.

"Piala Dunia 2026 tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan besar dan pemilik merek nasional yang sudah dikenal luas," ujar Kukrit.

Perhelatan ini juga menghadirkan peluang emas yang tak ternilai bagi pengelola hotel, pemilik restoran maupun kafe, pedagang makanan di pinggir jalan, pelaku industri kreatif yang menciptakan karya unik, penyedia jasa beragam kebutuhan, hingga pelaku UMKM di pelosok desa maupun kota kecil di berbagai daerah.

keberhasilan besar ini tidak datang dengan sendirinya. Ia lahir dari keyakinan bahwa ajang berskala global mampu menebar manfaat luas jika didukung oleh persaudaraan dan kerja sama yang erat antara pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha besar maupun kecil, lembaga penyiaran publik, aparat keamanan yang menjaga ketenangan, serta seluruh masyarakat yang menyambut dengan hati terbuka.

Dari rincian perhitungan Kadin, semua bisa melihat dengan jelas dari mana saja aliran rezeki itu datang, yakni sekira Rp1,76 triliun berasal dari aktivitas promosi produk melalui iklan dan siaran resmi di layar kaca.

Kemudian Rp850 miliar lebih mengalir dari beragam kegiatan komersial di luar siaran seperti acara temu penonton, pameran, dan promosi langsung di masyarakat. 

Porsi terbesar justru datang dari sektor yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sekira Rp2,4 triliun disumbang dari sektor perhotelan, restoran, kafe, tempat berkumpul, makan bersama, dan berbagi cerita saat menonton pertandingan, termasuk festival rakyat yang dirangkai dengan nonton bareng.

Kadin juga memperkirakan, angka Rp5,03 triliun itu baru permulaan dari manfaat yang dirasakan. Kegiatan Piala Dunia ini memiliki potensi besar untuk menciptakan efek pengganda ekonomi yang berkelanjutan, yang akan terus dirasakan di tahun-tahun mendatang. 

Selain mendorong masyarakat untuk berbelanja, perhelatan ini juga mendorong pelaku usaha untuk berinvestasi, seperti membeli televisi dan proyektor yang lebih layak.

Penyedia nonton bareng yang rela memperbarui sistem suara agar sorak penonton terdengar jernih, menambah kapasitas tempat duduk agar lebih banyak warga bisa ikut berkumpul, serta melengkapi fasilitas makanan dan minuman agar nyaman bagi siapa saja yang datang.

Dampak nyata ini tercatat dalam data resmi, sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman tumbuh sebesar 13,14 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026, menjadikannya salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi di awal tahun ini.

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan tanda bahwa harapan tumbuh kembali di hati para pengusaha, pedagang, dan pekerja di sektor ini.

Hasil survei

Kekuatan yang mengangkat semua manfaat ini datang dari berbagai penjuru, terutama partisipasi masyarakat yang begitu tinggi. Hal ini terkonfirmasi melalui survei yang dilakukan Lokadata terhadap 1.176 responden di 10 wilayah Indonesia pada 7-13 Juli 2026.

Hasil survei menunjukkan, manfaat ekonomi Piala Dunia benar-benar mengalir hingga ke tingkat paling bawah, hingga ke setiap komunitas dan lingkungan tempat tinggal warga.

Sebanyak 78,1 persen responden menyatakan telah mengikuti kegiatan nonton bareng setidaknya satu kali selama turnamen berlangsung. 

Betapa ramainya setiap sudut negeri, baik di lapangan desa, halaman balai kampung, teras rumah warga yang menyediakan layar untuk tetangga, hingga di kafe dan pusat keramaian kota. Semuanya penuh oleh orang-orang yang datang dengan senyum dan semangat yang sama.

Setiap kali berkumpul menonton bersama, rata-rata satu orang menghabiskan Rp51 ribu. Jika dihitung selama seluruh turnamen berlangsung, pengeluaran satu orang mencapai sekitar Rp145 ribu.

Uang itu mereka gunakan untuk membeli gorengan hangat, minuman segar, makanan berat, dan paket data agar tak ketinggalan berita, hingga beragam perlengkapan pendukung lain. 

Uang inilah yang kemudian berpindah tangan ke pedagang makanan, penjual minuman, penyedia jasa, dan pelaku UMKM lain, sehingga menjadikan setiap teriakan sorak dan setiap tepuk tangan sebagai sumber rezeki nyata bagi keluarga mereka.

Di samping manfaat ekonomi yang begitu besar, masyarakat juga memberikan apresiasi tinggi terhadap siaran yang disajikan TVRI sebagai penyiar resmi Piala Dunia 2026.

Sebanyak 79,9 persen responden memberikan penilaian positif terhadap kualitas siaran, dan 73 persen menyatakan merasa bangga bahwa lembaga penyiaran publik milik bangsa ini memegang peran penting di Piala Dunia. 

Apresiasi terbesar diberikan untuk kemudahan akses siaran yang gratis bagi semua orang, jeda iklan tidak berlebihan, sehingga tidak mengganggu konsentrasi menonton, serta sinyal yang menjangkau hingga ke daerah terjauh.

Masyarakat puas

Chief Data Officer Lokadata Suwandi Ahmad, menjelaskan bahwa dari sudut pandang data, tingkat kepuasan dan rasa bangga masyarakat ini merupakan capaian yang luar biasa untuk sebuah ajang olahraga berskala dunia.

"Hasil survei Lokadata menunjukkan sentimen positif yang seragam dan konsisten di berbagai wilayah Indonesia," ujar Suwandi.

Temuan ini mengindikasikan bahwa langkah TVRI menghadirkan siaran gratis dan mudah diakses, dengan jeda iklan yang terbatas, benar-benar memenuhi harapan masyarakat untuk mendapatkan akses informasi dan hiburan berkualitas tanpa hambatan.

Ia menambahkan, rasa bangga yang muncul menunjukkan tingginya kepercayaan publik terhadap lembaga penyiaran publik. 
Hal ini membuktikan bahwa penyiaran publik memiliki peran tak tergantikan, karena mampu menghadirkan tontonan terbaik yang bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, dari yang terkaya hingga yang paling sederhana, tanpa memandang tempat tinggal.

Direktur Utama TVRI Fiki Satari, menyampaikan bahwa keberhasilan penyelenggaraan ini tidak hanya diukur dari seberapa jernih gambar pertandingan atau seberapa jelas suara komentator, melainkan dari manfaat yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.

"Kepercayaan yang diberikan kepada TVRI sebagai penyiar resmi FIFA adalah amanah besar yang kami jalankan dengan sepenuh hati," ujar Fiki bernada tulus.

Pihaknya pun bertekad memastikan seluruh masyarakat Indonesia, di mana pun mereka berada, bisa menikmati momen indah Piala Dunia ini secara gratis. 

Ia bersyukur karena penyelenggaraan ini tak hanya menghadirkan tontonan yang membanggakan, tetapi juga mampu menciptakan ruang kebersamaan yang hangat, sekaligus memberikan dampak ekonomi nyata hingga UMKM di berbagai daerah.

Piala Dunia membuktikan bahwa penyiaran publik bukan sekadar saluran hiburan, melainkan jembatan yang menghubungkan masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha untuk menghadirkan manfaat yang melampaui sekadar tontonan semata.

Fiki menyampaikan apresiasi tinggi kepada pengurus Kadin yang telah menunjukkan komitmen luar biasa untuk menyukseskan perhelatan ini. Dukungan ini terwujud melalui kerja sama erat dengan pemerintah pusat, daerah, termasuk dukungan terhadap peran TVRI sebagai penyiar resmi.

Ia juga menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada seluruh kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah di setiap provinsi dan kabupaten, prajurit TNI dan anggota Polri yang menjaga keamanan dan ketertiban.

Ditujukan pula kepada beragam komunitas penggemar sepak bola, serta berbagai pihak lain yang telah bergotong royong mendukung kegiatan siaran maupun kegiatan di lapangan selama Piala Dunia berlangsung.

Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci. Sinergi ini memungkinkan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia menikmati pertandingan secara lebih luas, sekaligus merasakan manfaat ekonomi yang lahir dari perhelatan.

Hal ini membuktikan bahwa penyiaran publik bisa menjadi katalisator yang mempertemukan berbagai elemen bangsa, untuk menciptakan manfaat sosial maupun ekonomi yang dirasakan bersama.

Ajang ini membuktikan satu kebenaran indah, Piala Dunia tak sekadar menghadirkan hiburan dan kebanggaan, namun mampu menjadi instrumen penggerak ekonomi nasional yang kuat.

Berkat persaudaraan yang terjalin antara pemerintah, dunia usaha, lembaga penyiaran publik, pemerintah daerah, komunitas, dan jutaan pelaku UMKM di seluruh Indonesia, ekonomi pun bergerak.

Setiap sorak yang diteriakkan bersama, setiap tawa renyah di kedai kopi, setiap kebersamaan saat nonton bareng, tersimpan kekuatan besar untuk memutar roda rezeki, menebar harapan, dan menyatukan umat sebagai satu bangsa besar.

Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.