Studi terbaru: Fokus manusia kian terganggu akibat era digital
Kamis, 16 Juli 2026 21:12 WIB
Ilustrasi anak memainkan gawai (Pixabay)
Jakarta (ANTARA) - Penggunaan perangkat digital kemungkinan tidak menurunkan kemampuan berpikir seseorang, tetapi, dapat membuat otak enggan mengeluarkan usaha mental yang lebih besar, menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Human Behaviour.
Melansir Psychology Today, Selasa (14/7) waktu setempat, laporan penelitian yang dilakukan Wisnu Wiradhany, Douglas Parry, dan Jaan Aru tersebut memperkenalkan konsep brain recalibration atau penyesuaian ulang cara otak menilai usaha kognitif.
Menurut para peneliti, otak secara alami cenderung memilih cara yang membutuhkan usaha paling sedikit. Berbagai fitur pada perangkat digital, seperti gulir tanpa batas (infinite scroll), pemutaran video otomatis (autoplay), hingga notifikasi, membuat akses terhadap informasi maupun hiburan menjadi semakin mudah.
Akibatnya, otak mulai menganggap aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran mendalam sebagai sesuatu yang "lebih mahal" untuk dilakukan, meski kemampuan berpikir sebenarnya tidak berubah.
Peneliti menilai konsep tersebut dapat menjelaskan mengapa banyak orang merasa lebih sulit berkonsentrasi dalam kehidupan sehari-hari, sementara berbagai penelitian di laboratorium hanya menemukan dampak kecil penggunaan media digital terhadap kemampuan berpikir.
Dalam situasi yang terkontrol, seseorang masih mampu mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, godaan untuk beralih ke ponsel atau aplikasi lain membuat seseorang lebih sering meninggalkan pekerjaan yang memerlukan usaha mental lebih besar.
Peneliti mencontohkan seseorang yang sedang mempelajari informasi baru mungkin memilih mengambil foto atau meminta aplikasi memberikan jawaban instan daripada memahami materi secara mandiri. Pilihan tersebut tidak membuat kemampuan belajar hilang, tetapi, dapat mengurangi keinginan untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam.
Menurut peneliti, fenomena serupa juga dapat terjadi pada penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ketika teknologi mampu menulis, merangkum, atau membantu bernalar dengan cepat, sebagian orang mungkin semakin jarang melatih kemampuan berpikirnya sendiri.
Meski demikian, peneliti menegaskan kondisi tersebut bukan berarti pengguna menjadi korban teknologi. Mereka menyarankan masyarakat lebih menyadari saat perhatian mulai teralihkan dari tugas yang sedang dikerjakan serta mengurangi gangguan dengan membatasi notifikasi, menutup tab yang tidak diperlukan, dan menyediakan waktu khusus untuk mengerjakan tugas tanpa distraksi.
Dengan cara tersebut, seseorang dapat kembali membiasakan otak menggunakan kemampuan berpikir secara mendalam meski hidup di tengah lingkungan digital yang serba instan.
Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Pewarta : -
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.