Survei: China dan Xi Jinping Lebih Disukai daripada AS dan Trump

Liputan6.com, Washington, DC - Selama bertahun-tahun, masyarakat di banyak negara cenderung memandang Amerika Serikat (AS) lebih positif daripada China. Namun, kecenderungan itu berbalik tahun ini. Untuk pertama kalinya, menurut jajak pendapat terbaru Pew Research Center, China kini dipandang lebih positif daripada AS.

Pergeseran tersebut antara lain dipengaruhi oleh memburuknya hubungan antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan sejumlah negara sekutu AS.

Dalam survei yang dilakukan di 36 negara dan wilayah, masyarakat di 25 negara dan wilayah memiliki pandangan lebih positif terhadap China daripada AS. Kanada dan Meksiko termasuk di antaranya.

Survei berlangsung pada Februari hingga Mei, ketika AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran. Berdasarkan hasil survei yang dirilis Rabu, hanya enam negara yang masyarakatnya masih memandang AS lebih positif daripada China.

Perubahan serupa juga terlihat dalam penilaian terhadap pemimpin kedua negara. Di 22 dari 36 negara dan wilayah yang disurvei, pemimpin China Xi Jinping dipandang lebih positif daripada Presiden Trump.

Negara-negara tersebut mencakup Kanada, Meksiko, serta sejumlah kekuatan utama Eropa, seperti Prancis, Jerman, dan Inggris. Meski demikian, tingkat kepercayaan terhadap Xi dan Trump sama-sama rendah di banyak negara.

Laura Silver, wakil direktur riset sikap global Pew sekaligus salah satu peneliti dalam studi tersebut, mengatakan ini merupakan kali pertama dalam sekitar 20 tahun pemantauan Pew bahwa China dipandang lebih positif daripada AS.

Dalam beberapa periode sebelumnya, penilaian masyarakat terhadap Beijing dan Washington pernah hampir sama. Namun, baru kali ini China unggul secara signifikan.

Menurut Silver, membaiknya pandangan terhadap China antara lain dipengaruhi oleh semakin pudarnya ingatan masyarakat tentang pandemi COVID-19, yang sebelumnya merusak citra Beijing.

Pada saat yang sama, pandangan terhadap AS justru memburuk akibat berbagai kebijakan dan tindakannya di panggung global.

"Ada hubungan yang nyata antara pecahnya perang dan munculnya anggapan bahwa AS tidak berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas, serta menurunnya kepercayaan terhadap Trump," kata Silver.

Ia mengatakan tuntutan Trump untuk menguasai Greenland, operasi militer AS yang menangkap pemimpin Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, serta penanganan Washington terhadap perang Israel-Hamas di Gaza turut membuat pandangan terhadap AS memburuk di banyak negara.

"Dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun terakhir, berbagai bentuk keterlibatan AS di dunia tidak dipandang positif oleh masyarakat internasional," ujarnya.

Memburuknya citra AS tersebut ikut menguntungkan China. Ketika keduanya dibandingkan secara langsung, Beijing dinilai lebih positif di banyak negara.

"Di banyak tempat, China dipandang sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan. China juga lebih sering dianggap berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas dunia," kata Silver.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales mengatakan, "Presiden Trump telah berbuat lebih banyak bagi stabilitas global daripada siapa pun."

Wales menyebut sejumlah pencapaian Trump, termasuk "menghancurkan fasilitas nuklir Iran" dan "melenyapkan ratusan narkoteroris."

"Presiden Trump adalah pemimpin dunia bebas. Berkat kepemimpinannya yang berani, AS kini lebih kuat daripada sebelumnya," tutur Wales.