Warta Ekonomi, Jakarta -
Suzuki mulai membuka jalan ke segmen mobil listrik mungil di Jepang lewat e-Sky, kei car listrik yang dijadwalkan meluncur pada musim gugur tahun ini.
Suzuki memperkenalkan e-Sky pada Senin (25/8/2026). Mobil listrik tersebut diklaim mampu menempuh jarak hingga 310 kilometer dalam sekali pengisian daya, menjadikannya salah satu kei car listrik dengan jangkauan terjauh di kelasnya.
e-Sky merupakan versi produksi dari Vision e-Sky, mobil konsep yang diperkenalkan Suzuki dalam ajang Japan Mobility Show 2025.
Suzuki belum mengungkap seluruh spesifikasi teknis maupun harga e-Sky. Namun, perusahaan asal Jepang itu menyebut mobil tersebut akan ditawarkan dengan harga yang menarik agar konsumen memiliki alasan untuk beralih dari kendaraan bermesin bensin.
Peluncurannya dijadwalkan berlangsung antara September hingga November 2026.
Dari desainnya, e-Sky masih mempertahankan karakter kotak yang menjadi ciri khas Vision e-Sky. Lampu depan dan belakang sudah menggunakan LED, dengan DRL berbentuk huruf C yang menjadi elemen visual utama di kedua sisi kendaraan.
Bagian depan juga terlihat memiliki kamera yang ditempatkan di area grille. Sementara di belakang terdapat wiper, kamera, serta spoiler.
Suzuki belum memberikan angka resmi mengenai dimensi e-Sky. Sebagai gambaran, Vision e-Sky memiliki panjang 3.395 milimeter, lebar 1.475 milimeter, dan tinggi 1.625 milimeter.
Proporsinya dibuat lebih tinggi dibandingkan mobil mungil konvensional, tetapi tidak terlalu lebar. Suzuki juga sengaja tidak membuat e-Sky setinggi sejumlah kei car lain di Jepang.
Masuk ke kabin, e-Sky dibekali dua layar digital yang masing-masing ditempatkan di tengah dasbor dan di depan pengemudi. Fitur lainnya mencakup pengatur suhu kabin otomatis serta kemampuan vehicle-to-load (V2L) untuk menyuplai daya ke perangkat listrik dari baterai kendaraan.
Sejumlah tombol pengoperasian ditempatkan pada setir, sedangkan pemilih mode berkendara berada di area dasbor.
Dari sisi teknologi, Suzuki memanfaatkan pengalaman pengembangan kendaraan listrik yang sebelumnya digunakan pada e Vitara. Namun, teknologi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan e-Sky yang memiliki ukuran lebih kecil.
Kepala insinyur e-Sky, Tomoyuki Tsubata, mengatakan Suzuki mengembangkan sendiri sistem e-axle yang digunakan pada mobil tersebut.
Menurutnya, efisiensi menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan e-Sky. Suzuki bahkan mengoptimalkan setiap komponen agar bobot dan dimensinya tetap minimal tanpa mengorbankan performa kendaraan.
Efisiensi tersebut tercermin dari konsumsi energinya. Suzuki menyebut e-Sky membutuhkan sekitar 1 kWh untuk menempuh 12 kilometer.
Dengan angka tersebut, meski jarak tempuh e-Sky masih di bawah BYD Racco yang diklaim mencapai 320 kilometer, Suzuki mengatakan efisiensi energinya memungkinkan mobil ini menempuh jarak sekitar 30 persen lebih jauh dibandingkan Racco maupun Nissan Sakura dengan jumlah energi yang sama.
Kehadiran e-Sky juga menandai langkah baru Suzuki di pasar mobil listrik Jepang. Selama ini, Suzuki lebih banyak bermain di kendaraan listrik mungil untuk kebutuhan komersial melalui e Every.
Kini, e-Sky akan berhadapan dengan sejumlah pemain yang sudah lebih dulu masuk ke segmen kei car listrik, seperti Nissan, Honda, Mitsubishi, hingga BYD.
Baca Juga: Harga Mobil BYD Agustus 2026: Ada yang Naik Rp12 Juta
Baca Juga: Pajak Mobil Indonesia dan Malaysia Ternyata Beda Jauh, Ini Hitungannya
Baca Juga: Kunjungi Suzuki di GIIAS Surabaya, Wamenperin Soroti Industri Komponen Lokal
BYD sendiri telah memperkenalkan Racco sebagai kei car listrik pertamanya di Jepang pada Juli 2026. Mobil tersebut memiliki klaim jarak tempuh hingga 320 kilometer.
Menariknya, Suzuki tidak hanya merancang e-Sky untuk pasar domestik Jepang. Dimensinya yang dibuat tidak terlalu tinggi juga mempertimbangkan peluang ekspor.
Suzuki menilai desain kei car yang terlalu tinggi cenderung kurang sesuai dengan selera konsumen di luar Jepang. Karena itu, e-Sky dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar internasional sejak awal.
Dengan strategi tersebut, e-Sky bukan sekadar upaya Suzuki masuk ke persaingan mobil listrik mungil di Jepang, tetapi juga bisa menjadi pijakan bagi perusahaan untuk memperluas kendaraan listriknya ke pasar global.