Taipei (ANTARA) - Kepala Departemen Luar Negeri Taiwan Lin Chia-Lung mengatakan fase berikutnya Kebijakan Baru ke Arah Selatan (New Southbound Policy/NSP) akan memperdalam kerja sama industri dan rantai pasok dengan mitra di Indo-Pasifik.
"Oleh karena itu, prioritas utama untuk fase selanjutnya dari kerja sama New Southbound Policy adalah memperdalam kerja sama industri dan rantai pasokan,” kata Lin.
Pernyataan itu disampaikan Lin dalam pertemuan dengan delegasi media dalam kerangka NSP Taiwan di Kantor Departemen Luar Negeri Taiwan di Taipei, Kamis.
ASEAN menjadi salah satu mitra dagang utama Taiwan. Pada 2025, nilai perdagangan Taiwan dengan ASEAN-10 mencapai 180,86 miliar dolar AS atau 16,1 persen dari total perdagangan Taiwan.
Nilai tersebut menempatkan ASEAN-10 sebagai mitra dagang terbesar ketiga Taiwan berdasarkan nilai perdagangan, setelah China dan Hong Kong serta Amerika Serikat.
Lin menuturkan kerja sama pada masa mendatang perlu melihat lebih jauh dari sekadar angka perdagangan bilateral dengan memperkuat investasi, teknologi, pertukaran talenta, dan hubungan industri.
“Untuk kerja sama di masa depan, kita harus berpikir strategis tentang bagaimana investasi, teknologi, pertukaran talenta, dan hubungan industri dapat membantu kita menjadi mitra ekonomi yang lebih terpercaya dan tak tergantikan satu sama lain,” ujarnya.
Baca juga: CIER: Indonesia menjadi pasar menarik bagi perusahaan Taiwan
Ia mengatakan Taiwan memiliki sektor usaha kecil dan menengah yang dinamis serta ekosistem industri komprehensif yang mencakup semikonduktor, kecerdasan buatan, teknologi informasi dan komunikasi, serta manufaktur maju.
Menurut Lin, penguatan kerja sama tersebut akan meningkatkan keamanan dan ketahanan rantai pasok.
“Saat ini, keamanan dan kemakmuran telah saling terkait,” tuturnya.
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026