“Kita diutus untuk menjadi penyeru kebaikan, pencerah, dan pelopor Islam yang rahmatan lil 'alamin di mana pun berada,”
Mataram (ANTARA) - Sebanyak 1.175 santri Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Al-Majidiyah Asy-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan (NW) menamatkan pembacaan kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim sekaligus menerima ijazah dalam acara penamatan dan pembaiatan di Anjani, Lombok Timur.
Namun, ada pesan penting yang disampaikan kepada para santri pada momentum tersebut: tamat dari ma’had bukan berarti tamat belajar.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (NW), Tuan Guru Dr. Lalu Gede Muhamad Zainuddin Atsani, dalam amanatnya menegaskan bahwa kelulusan harus menjadi awal bagi para santri untuk terus mendalami ilmu hingga akhir hayat.
“Tamat di Ma’had ini bukan berarti tamat belajar! Tamat hanya berarti selesai mempelajari kitab-kitab ini, untuk diulangi kembali, tidak boleh terputus. Teruslah belajar sampai akhir hayat. Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang kalian miliki.”
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan utama dalam acara yang berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan itu. Hadir dalam kegiatan tersebut para ulama, pengurus NW dari 34 provinsi di Indonesia, pejabat pemerintah, serta tokoh masyarakat dari dalam maupun luar negeri.
Tradisi penamatan tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang pendidikan keagamaan NW yang telah berlangsung sejak berdirinya organisasi pada 1957 dan Ma’had Anjani pada 1965 oleh Al-Maghfurulah Syekh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan doa, kemudian dilanjutkan pembacaan hadis Sahih Bukhari dan Sahih Muslim secara berjamaah hingga khatam.
Suasana semakin khidmat ketika memasuki prosesi pembaiatan. Para santri mengucapkan janji setia untuk terus berjuang dalam barisan Nahdlatul Wathan dan melanjutkan nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan para pendahulu.
Setelah itu, sebanyak 1.175 santri menerima ijazah sebagai bukti telah menyelesaikan pendidikan di Ma’had. Mereka terdiri atas 484 banin dan 691 banat.
Kelulusan tersebut tidak diperoleh secara instan. Para santri harus melewati sistem ujian secara bertahap, termasuk ujian tulis dan ujian lisan yang dilakukan setiap tahun, berdasarkan enam persyaratan yang telah disepakati para masyayikh.
Jangan Pernah Merasa Cukup dengan Ilmu
Tuan Guru Zainuddin Atsani kembali mengingatkan para alumni agar tidak menjadikan ijazah sebagai tanda berakhirnya perjalanan keilmuan.
Menurut dia, ilmu harus terus dikaji, dibaca, dan diamalkan di mana pun para alumni berada. Kesuksesan seseorang, katanya, tidak semata-mata ditentukan latar belakang maupun harta, tetapi oleh ketekunan, ketulusan, dan ridha Allah SWT.
Ia mengingatkan firman Allah SWT yang menegaskan bahwa orang-orang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya beberapa tingkat.
Karena itu, para alumni diharapkan tidak hanya menjadi orang yang berilmu, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
“Kita diutus untuk menjadi penyeru kebaikan, pencerah, dan pelopor Islam yang rahmatan lil 'alamin di mana pun berada,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan seluruh alumni untuk menjaga keutuhan dan persatuan Nahdlatul Wathan di mana pun mereka berada.
1.175 Alumni Bentuk Majelis Mutakharijin dan Mutakharijat
Pada momentum tersebut juga dibentuk Majelis Mutakharijin dan Mutakharijati yang beranggotakan 1.175 alumni. Wadah tersebut diharapkan menjadi ruang konsolidasi alumni sekaligus garda terdepan dalam menjaga keutuhan dan persatuan perjuangan Nahdlatul Wathan.
Para alumni diharapkan mampu mengambil peran sebagai teladan, penyeru kebaikan, dan penyebar nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.
Kehadiran pengurus NW dari 34 provinsi sekaligus menunjukkan luasnya jaringan organisasi tersebut dan kuatnya ikatan para alumni di berbagai daerah.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan permohonan keberkahan. Para santri yang telah menerima ijazah diharapkan membawa ilmu yang diperoleh dari Ma’had Anjani untuk terus diamalkan dan diwariskan kepada masyarakat.
Sebab, bagi para santri Anjani, tamat bukanlah garis akhir. Tamat adalah awal untuk kembali belajar, mengamalkan ilmu, dan berjuang hingga akhir hayat.
Pewarta : Siti Ulfa Aulia Unnisak, mahasiswa PKL IAIH Anjani
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026