REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketika serangan Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang kawasan Teluk, harga minyak menembus 90 dolar AS per barel, dan perang Rusia-Ukraina terus menyasar infrastruktur energi, Libya justru mendapatkan kabar besar dari bawah gurun pasirnya. Negara Afrika Utara itu mengumumkan kelayakan komersial sebuah lapangan minyak baru dengan perkiraan cadangan yang dapat dipulihkan mencapai 195 juta barel.
National Oil Corporation (NOC) Libya menyatakan lapangan Essar, dalam sejumlah laporan Libya ditulis Al-Isar atau Al-Eisaar, ditemukan oleh perusahaan energi Austria, OMV, melalui pengeboran sumur eksplorasi B1-106/4 di Cekungan Sirte. Rencana pengembangan yang diajukan OMV telah dievaluasi dan dinyatakan layak secara ekonomi.
Pengumuman kelayakan komersial itu disampaikan NOC pada Kamis, 16 Juli 2026, dan dilaporkan Libya Herald pada Jumat, 17 Juli 2026. Cadangan tersebut berada pada reservoir Upper Sabil dan Lower Sabil, dengan kapasitas produksi yang diperkirakan mencapai sekitar 5.000 barel minyak per hari.
Zueitina Oil Operations akan menjadi operator pengembangan lapangan tersebut. NOC menyatakan lokasi Essar yang berdekatan dengan fasilitas permukaan dan infrastruktur produksi yang telah tersedia memungkinkan proses pengembangan dipercepat sehingga minyak dapat dialirkan ke jaringan produksi dalam waktu lebih singkat.
Penemuan tersebut bukan hasil pengeboran yang dilakukan secara tiba-tiba. OMV kembali melakukan kegiatan eksplorasi di Libya pada Oktober 2024 setelah menghentikan aktivitasnya selama sekitar 13 tahun sejak pergolakan politik 2011. Perusahaan itu kemudian melanjutkan pengeboran sumur B1-106/4 di area kontrak 106/4, Cekungan Sirte.
Dokumen awal NOC mengenai hasil pengeboran menunjukkan lapisan Upper Sabil menghasilkan aliran uji sekitar 2.000 barel minyak per hari, sedangkan Lower Sabil menghasilkan sekitar 2.200 barel per hari. Kedua lapisan tersebut juga menghasilkan gas dengan kualitas minyak sekitar 42 derajat API, yang mengindikasikan jenis minyak mentah relatif ringan.
Sumur tersebut berada sekitar enam kilometer di sebelah barat lapangan Intisar 103D, sekitar 364 kilometer di selatan Benghazi dan 860 kilometer di timur Tripoli. Kedekatannya dengan lapangan serta fasilitas yang telah beroperasi menjadi keunggulan karena NOC tidak harus membangun seluruh jaringan produksi dari awal.
Nilainya Bisa Mencapai Rp8,15 Miliar per Hari
Pada harga minyak Brent sebesar 90,79 dolar AS per barel pada Senin, 20 Juli 2026, produksi sebanyak 5.000 barel per hari secara kasar memiliki nilai penjualan kotor sekitar 453.950 dolar AS per hari.
Dengan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia sebesar Rp17.944 per dolar AS pada Jumat, 17 Juli 2026, nilai tersebut setara sekitar Rp8,15 miliar per hari. Apabila produksi berjalan stabil selama satu tahun, nilai penjualan kotornya dapat mencapai sekitar 165,69 juta dolar AS atau Rp2,97 triliun.