Tokyo Jadi Pintu Baru Pengusaha Jakarta, Diana Dewi Dorong Kolaborasi dari Teknologi hingga Pangan KADIN DKI Jakarta

Warta Ekonomi, Jakarta -

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta memperkuat jejaring bisnis Indonesia–Jepang melalui kegiatan Business Matching KADIN DKI Jakarta bersama Tokyo Metropolitan Small and Medium Enterprise Support Center di Tokyo, Jepang, Kamis, 30 Juli 2026.

Pertemuan ini menjadi kunjungan dan kolaborasi kedua KADIN DKI Jakarta dengan Tokyo SME Support Center, sekaligus menunjukkan kesinambungan hubungan antara pelaku usaha Jakarta dan Jepang.

Kegiatan yang diinisiasi bersama KADIN DKI Jakarta dan Tokyo SME Support Center tersebut mempertemukan 10 perusahaan Indonesia dengan lebih dari 60 perusahaan Jepang, dengan total sekitar 70 pertemuan bisnis. Pertemuan dilakukan secara langsung untuk membuka peluang kerja sama konkret, mulai dari perdagangan, distribusi, kemitraan teknologi, hingga pengembangan investasi dan akses pasar.

Business matching dibuka oleh Mr. Tarao Mitsuchika, President and CEO Tokyo Metropolitan Small and Medium Enterprise Support Center dan dihadiri oleh Merry Astrid, Atase Perdagangan KBRI Tokyo. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut memperkuat upaya membangun konektivitas bisnis yang lebih erat antara Jakarta dan Tokyo.

Ketua Umum KADIN DKI Jakarta Diana Dewi mengatakan, kunjungan kedua ini membawa misi yang lebih konkret. Menurutnya, hubungan bisnis Indonesia dan Jepang perlu terus dikembangkan dari sekadar pertemuan dan pertukaran informasi menuju kemitraan yang menghasilkan transaksi, investasi, transfer teknologi, serta perluasan pasar bagi dunia usaha.

“Kami datang ke Tokyo bukan sekadar membawa kartu nama, tetapi membawa peluang. Targetnya sederhana: pertemuan hari ini harus membuka pintu bagi transaksi dan kolaborasi esok hari,” ujar Diana Dewi bersama pengurus KADIN DKI Jakarta lainnya.

Perusahaan yang terlibat berasal dari beragam sektor, antara lain manufaktur mesin dan factory solutions, makanan dan distribusi, teknologi informasi, kimia, pangan, tekstil, pertanian, household products, hingga konstruksi. Keragaman sektor tersebut menunjukkan luasnya ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan antara perusahaan Indonesia dan Jepang, khususnya dalam pemanfaatan teknologi, peningkatan produktivitas, penguatan rantai pasok, dan pengembangan produk bernilai tambah.

Diana menilai, Jepang tetap menjadi mitra penting bagi dunia usaha Indonesia, bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai sumber teknologi, pengetahuan industri, standar kualitas, dan jaringan bisnis global. Di sisi lain, Indonesia menawarkan pasar yang besar, basis produksi yang terus berkembang, sumber daya yang beragam, serta peluang investasi di berbagai sektor.

“Jepang punya teknologi, pengalaman, dan standar industri yang kuat. Indonesia punya pasar, sumber daya, kreativitas, dan potensi pertumbuhan. Ketika kekuatan ini dipertemukan, peluang bisnisnya menjadi jauh lebih besar,” kata Diana.

Menurut Diana, business matching juga menjadi kesempatan bagi pelaku usaha Indonesia untuk memahami lebih dekat karakter pasar Jepang yang menempatkan kualitas, konsistensi, kepercayaan, dan hubungan jangka panjang sebagai bagian penting dalam membangun kemitraan.

Karena itu, KADIN DKI Jakarta mendorong perusahaan Indonesia, termasuk UMKM yang telah siap berkembang, untuk semakin berani memasuki pasar internasional dengan meningkatkan kualitas produk, kapasitas produksi, inovasi, sertifikasi, dan profesionalisme bisnis.

“UMKM dan pengusaha kita jangan hanya menjadi penonton di pasar global. Kita harus berani masuk, berani bersaing, dan yang paling penting, siap memenuhi standar. Produk Indonesia punya potensi besar, tugas kita adalah membuat dunia semakin percaya pada kualitasnya,” tegas Diana.

KADIN DKI Jakarta berharap sekitar 70 pertemuan bisnis yang berlangsung dalam agenda tersebut tidak berhenti di meja business matching. Komunikasi dan penjajakan akan terus didorong menuju tindak lanjut yang lebih konkret, baik berupa kerja sama perdagangan, distribusi, investasi, pengembangan teknologi, maupun kemitraan strategis lainnya.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya KADIN DKI Jakarta memperluas akses pasar internasional bagi anggotanya dan menjadikan Jakarta sebagai pintu masuk bagi kolaborasi bisnis global di Indonesia.

“Bagi kami, ukuran keberhasilan business matching bukan berapa banyak orang yang bertemu, tetapi berapa banyak peluang yang berlanjut menjadi bisnis nyata. Dari Tokyo, kami ingin membuka lebih banyak pintu agar pengusaha Jakarta dan Indonesia berani naik kelas dan bermain di pasar global,” tutup Diana Dewi. (*)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.