Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara atau wisnus pada Desember 2025 mencapai 105,98 juta perjalanan, naik 4,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, perjalanan wisatawan nasional atau wisnas ke luar negeri mencapai 823,77 ribu perjalanan, meningkat 1,64% yoy.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia tetap aktif melakukan perjalanan, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik: ketika jumlah perjalanan meningkat, apakah kesadaran untuk mempersiapkan perlindungan terhadap risiko selama perjalanan juga ikut menjadi perhatian?
Ringkasan
Peningkatan jumlah perjalanan tentu tidak dapat langsung diartikan bahwa jumlah kecelakaan, gangguan perjalanan, atau klaim asuransi otomatis meningkat. Data BPS tidak menunjukkan kesimpulan tersebut.
Namun, meningkatnya mobilitas memiliki makna lain yang tidak kalah penting. Semakin banyak masyarakat melakukan perjalanan, semakin luas pula aktivitas yang berlangsung di luar rutinitas sehari-hari dan semakin beragam pula situasi yang mungkin dihadapi selama bepergian.
Risiko perjalanan tidak selalu berbentuk peristiwa besar.
Gangguan yang terlihat sederhana pun dapat mengubah seluruh rencana. Seseorang dapat mengalami sakit ketika berada jauh dari rumah. Jadwal transportasi dapat berubah. Perjalanan yang telah direncanakan sejak jauh hari juga dapat dibatalkan akibat kondisi tertentu. Bagasi dapat terlambat, rusak, atau hilang dalam proses perjalanan.
Situasi tersebut mungkin tidak dialami oleh setiap wisatawan. Namun, kemungkinan terjadinya gangguan merupakan bagian yang tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari aktivitas bepergian.
Dalam konteks ini, pertumbuhan perjalanan bukan hanya menarik untuk dilihat sebagai indikator meningkatnya aktivitas pariwisata. Data tersebut juga dapat dibaca sebagai gambaran semakin tingginya mobilitas masyarakat.
Ketika mobilitas meningkat, kebutuhan untuk memahami risiko perjalanan menjadi semakin relevan.
Perjalanan domestik, misalnya, memiliki volume yang jauh lebih besar dibandingkan perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri berdasarkan data BPS tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas bepergian masyarakat berlangsung di dalam negeri.
Fakta tersebut sekaligus mengingatkan bahwa risiko perjalanan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas lintas negara.
Seseorang yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bali, Yogyakarta, Medan, atau kota lain tetap dapat menghadapi kondisi kesehatan yang berubah, gangguan transportasi, maupun masalah terhadap barang bawaan. Jarak yang lebih dekat dari rumah memang dapat memberikan kemudahan tertentu, tetapi tidak berarti seluruh kemungkinan gangguan hilang.
Di sisi lain, perjalanan ke luar negeri dapat memiliki kompleksitas tambahan, terutama terkait perbedaan sistem layanan, biaya medis, bahasa, maupun persyaratan perjalanan. Karena itu, kebutuhan perlindungan setiap orang dapat berbeda.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya ke mana seseorang bepergian, melainkan juga bagaimana perjalanan tersebut dilakukan dan risiko apa yang mungkin menyertainya.
Apakah Masyarakat yang Semakin Sering Bepergian Juga Semakin Siap Menghadapi Risiko?
Meningkatnya jumlah perjalanan tidak otomatis menunjukkan bahwa kesadaran proteksi masyarakat juga meningkat. Namun, tren mobilitas yang lebih tinggi membuat pemahaman mengenai risiko perjalanan semakin relevan, baik untuk perjalanan domestik maupun internasional.
Tanpa data khusus mengenai tingkat kepemilikan atau kesadaran masyarakat terhadap asuransi perjalanan, tidak tepat untuk menyimpulkan bahwa kesadaran proteksi sudah meningkat atau justru masih rendah.
Meski demikian, ada perbedaan penting antara sering bepergian dan siap menghadapi gangguan selama perjalanan.
Seseorang dapat sangat berpengalaman mencari tiket murah, membandingkan harga hotel, atau menyusun itinerary. Namun, kemampuan merencanakan perjalanan belum tentu berarti seluruh risiko telah dipertimbangkan.
Beberapa bentuk kesiapan yang dapat diperhatikan sebelum bepergian antara lain:
memahami risiko yang mungkin muncul selama perjalanan;
mengetahui kebijakan pembatalan atau perubahan tiket dan akomodasi;
mempertimbangkan kebutuhan bantuan medis atau keadaan darurat;
memeriksa perlindungan terhadap bagasi dan barang pribadi;
memahami aktivitas yang memiliki risiko tambahan;
mempertimbangkan asuransi perjalanan sesuai kebutuhan dan ketentuan polis.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa kesadaran proteksi tidak harus selalu dipahami sebatas membeli sebuah produk.
Kesadaran juga dimulai dari kemampuan memahami bahwa perjalanan memiliki variabel yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Seseorang mungkin telah memilih maskapai, memesan hotel dengan ulasan terbaik, serta menyusun itinerary hingga per jam. Namun, perubahan kondisi kesehatan, cuaca, gangguan operasional, atau keadaan darurat tetap dapat mengubah rencana tersebut.
Inilah alasan mengapa peningkatan perjalanan menarik untuk dilihat dari sudut pandang yang lebih luas.
Mobilitas yang meningkat menunjukkan masyarakat semakin aktif bergerak, tetapi kesiapan menghadapi risiko perlu dilihat sebagai bagian terpisah dari keputusan untuk bepergian.
Semakin Mudah Liburan, Semakin Mudah Pula Melupakan Risiko
Perubahan teknologi telah membuat proses merencanakan perjalanan jauh lebih sederhana dibandingkan sebelumnya.
Tiket dapat dicari dan dibeli melalui ponsel. Hotel dapat dibandingkan berdasarkan harga, lokasi, dan ulasan. Informasi mengenai tempat wisata tersedia dalam hitungan detik. Itinerary bahkan dapat disusun dengan bantuan berbagai aplikasi digital.
Kemudahan tersebut membawa satu paradoks.
Semakin mudah seseorang merencanakan skenario ideal untuk liburannya, semakin besar kemungkinan perhatian terkonsentrasi pada hal-hal yang diharapkan berjalan lancar.
Fokus utama biasanya tertuju pada pertanyaan seperti: tiket mana yang paling murah, hotel mana yang paling strategis, atau destinasi mana yang paling menarik untuk dikunjungi.
Pertanyaan mengenai apa yang harus dilakukan ketika rencana berubah sering kali baru muncul setelah gangguan benar-benar terjadi.
Di sinilah terdapat perbedaan antara travel planning dan manajemen risiko perjalanan.
Travel planning berfokus pada bagaimana perjalanan dapat dimulai dan dijalankan. Sementara itu, manajemen risiko mempertimbangkan apa yang dapat terjadi ketika salah satu bagian dari rencana tidak berjalan sesuai skenario.
Perbedaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dampaknya cukup besar.
Misalnya, seorang wisatawan telah membeli tiket transportasi, memesan hotel, dan membayar aktivitas tertentu di tempat tujuan. Seluruh transaksi tersebut mungkin dibuat dalam waktu dan kebijakan yang berbeda.
Ketika satu bagian perjalanan berubah, dampaknya dapat menjalar ke bagian lain.
Jadwal transportasi yang terganggu dapat memengaruhi waktu check-in hotel. Pembatalan perjalanan dapat membuat agenda wisata tidak dapat dijalankan. Kondisi kesehatan yang berubah dapat membuat seluruh rencana harus disusun ulang.
Risiko perjalanan, dengan demikian, tidak selalu dinilai dari seberapa besar peristiwa yang terjadi.
Terkadang, persoalan utamanya justru terletak pada efek berantai dari satu gangguan terhadap seluruh rangkaian perjalanan.
Inilah yang sering luput ketika seseorang hanya menghitung biaya untuk berangkat.
Wisatawan dapat menghabiskan waktu membandingkan selisih harga tiket atau mencari promo akomodasi. Namun, biaya perjalanan tidak selalu berhenti pada angka yang tercantum ketika pemesanan dilakukan.
Pengeluaran tambahan atau konsekuensi finansial dapat muncul ketika rencana harus berubah.
Kesadaran proteksi menjadi relevan bukan karena setiap perjalanan pasti menghadapi masalah. Justru sebaliknya, perlindungan dipertimbangkan karena tidak semua situasi dapat diprediksi dan dikendalikan sejak awal.
Risiko Apa yang Dapat Muncul Ketika Mobilitas Meningkat?
Setiap perjalanan memiliki karakter dan tingkat risiko yang berbeda. Namun, terdapat beberapa gangguan yang dapat menjadi pertimbangan sebelum seseorang berangkat.
Sakit dan Kebutuhan Medis
Kondisi kesehatan dapat berubah kapan saja, termasuk ketika seseorang sedang berada di luar kota atau jauh dari tempat tinggalnya.
Situasi tersebut dapat memengaruhi seluruh agenda perjalanan. Dalam kondisi tertentu, wisatawan mungkin membutuhkan pemeriksaan, perawatan, atau bantuan darurat.
Persoalan yang dihadapi juga tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan. Wisatawan mungkin perlu mencari informasi mengenai fasilitas yang tersedia dan menyesuaikan kembali seluruh jadwal perjalanan.
Perlindungan perjalanan dapat membantu mengantisipasi kebutuhan tertentu terkait biaya medis dan keadaan darurat sesuai manfaat produk serta ketentuan polis.
Pembatalan atau Perubahan Perjalanan
Tidak semua perjalanan dapat berjalan sesuai jadwal yang telah direncanakan.
Kondisi kesehatan, keadaan darurat keluarga, cuaca ekstrem, maupun gangguan operasional dapat membuat perjalanan harus dibatalkan atau diubah.
Tantangannya, perjalanan modern biasanya terdiri atas beberapa transaksi yang saling terhubung. Tiket, hotel, transportasi lokal, dan aktivitas wisata dapat memiliki ketentuan masing-masing.
Satu perubahan berpotensi memengaruhi rencana lainnya.
Manfaat terkait pembatalan atau perubahan perjalanan dapat membantu mengurangi dampak finansial dalam kondisi tertentu sesuai perlindungan yang dipilih dan ketentuan polis.
Keterlambatan dan Gangguan Transportasi
Bagi wisatawan yang memanfaatkan long weekend, waktu sering kali menjadi sumber daya yang terbatas.
Perjalanan tiga hari dapat memiliki jadwal yang cukup padat. Keterlambatan beberapa jam saja berpotensi mengubah agenda yang telah disusun.
Wisatawan mungkin kehilangan waktu untuk mengunjungi destinasi tertentu atau harus mengatur ulang jadwal aktivitas berikutnya.
Gangguan transportasi menunjukkan bahwa risiko perjalanan tidak selalu berupa kejadian dramatis. Perubahan kecil dalam jadwal dapat memiliki dampak besar ketika waktu liburan terbatas.
Bagasi dan Barang Pribadi
Bagasi yang terlambat, rusak, atau hilang dapat mengganggu perjalanan secara langsung.
Wisatawan yang tiba di tempat tujuan tanpa barang yang dibutuhkan mungkin harus mencari kebutuhan pengganti agar aktivitas dapat tetap berjalan.
Dampaknya dapat berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian wisatawan, gangguan tersebut mungkin hanya menimbulkan ketidaknyamanan. Dalam situasi lain, barang yang terlambat atau hilang dapat mengubah agenda yang telah direncanakan.
Perlindungan terhadap bagasi dan barang pribadi dapat membantu mengurangi dampak finansial sesuai manfaat dan ketentuan polis.
Baca Juga: Beri Perlindungan Dini. Asuransi Zurich Critical Care Tanggung 141 Penyakit Kritis sejak Tahap Awal
Baca Juga: Zurich Gandeng Semasa Piknik 2026 untuk Dekatkan Literasi Asuransi kepada Generasi Muda
Aktivitas dengan Risiko Tambahan Tidak Bisa Disamakan dengan Liburan Biasa
Tidak semua perjalanan memiliki tingkat aktivitas yang sama. Ada wisatawan yang hanya ingin beristirahat di hotel dan mengunjungi tempat wisata. Ada pula yang menjadikan perjalanan sebagai kesempatan mengikuti kompetisi olahraga, melakukan aktivitas petualangan, atau mencoba olahraga salju.
Perbedaan tersebut penting karena destinasi yang sama tidak selalu berarti risiko yang sama.
Dua orang dapat bepergian ke lokasi yang sama, tetapi memiliki kebutuhan perlindungan berbeda. Salah satunya mungkin menghabiskan waktu dengan aktivitas santai, sedangkan yang lain mengikuti kegiatan yang memiliki risiko tambahan.
Karena itu, wisatawan perlu melihat profil perjalanan secara lebih rinci, bukan hanya menentukan apakah perjalanan dilakukan di dalam atau luar negeri.
Hal-hal yang dapat dipertimbangkan antara lain:
tujuan perjalanan;
durasi perjalanan;
jumlah orang yang bepergian;
frekuensi bepergian;
aktivitas yang akan dilakukan;
kemungkinan perubahan atau pembatalan perjalanan;
kebutuhan medis;
risiko terhadap bagasi dan barang pribadi.
Pendekatan tersebut membuat persiapan perjalanan menjadi lebih personal.
Pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya, “Apakah saya perlu asuransi perjalanan?” Pertanyaan yang lebih relevan adalah, “Risiko apa yang mungkin saya hadapi dalam perjalanan ini dan perlindungan seperti apa yang sesuai?”
Simulasi: Ketika Satu Gangguan Mengubah Seluruh Rencana Liburan
Bayangkan seorang pekerja memanfaatkan long weekend 17 Agustus untuk melakukan perjalanan selama tiga hari bersama keluarga.
Tiket transportasi telah dibeli jauh-jauh hari. Hotel sudah dipesan. Beberapa aktivitas di tempat tujuan juga telah masuk ke dalam itinerary.
Pada awalnya, semua terlihat sederhana. Berangkat pada hari pertama, menikmati sejumlah destinasi pada hari kedua, kemudian kembali pada hari ketiga.
Namun, sehari sebelum keberangkatan, salah satu anggota keluarga mengalami kondisi yang membuat perjalanan harus ditunda atau bahkan dibatalkan.
Persoalannya kemudian tidak hanya berhenti pada keputusan untuk tidak jadi berangkat.
Ada tiket yang telah dibeli. Ada hotel yang telah dipesan. Ada pula aktivitas lain yang mungkin sudah dibayar. Setiap transaksi dapat memiliki aturan pembatalan dan perubahan yang berbeda.
Satu gangguan dapat memengaruhi seluruh rangkaian perjalanan.
Situasi lain juga dapat terjadi ketika wisatawan sudah berada di perjalanan. Misalnya, keterlambatan transportasi membuat wisatawan tiba jauh lebih lambat dari jadwal yang direncanakan.
Akibatnya, jadwal check-in berubah, agenda pada hari pertama harus dibatalkan, dan waktu liburan yang semula terbatas menjadi semakin singkat.
Contoh berikutnya berkaitan dengan bagasi.
Wisatawan tiba di tempat tujuan, tetapi barang bawaan mengalami keterlambatan. Jika barang tersebut berisi kebutuhan penting selama perjalanan, wisatawan mungkin harus mencari pengganti agar aktivitas tetap dapat dilakukan.
Ketiga ilustrasi tersebut memiliki satu kesamaan: gangguan tidak harus berupa peristiwa besar untuk memengaruhi biaya dan pengalaman perjalanan.
Inilah alasan mengapa risiko perjalanan perlu dipahami sebagai sebuah rangkaian.
Satu perubahan pada transportasi dapat memengaruhi akomodasi. Masalah kesehatan dapat mengubah seluruh itinerary. Bagasi yang tidak tiba sesuai jadwal dapat menimbulkan kebutuhan pengeluaran tambahan.
Dengan kata lain, risiko perjalanan tidak selalu dapat dilihat secara terpisah-pisah.
Travel Planning dan Manajemen Risiko, Dua Hal yang Berbeda
Banyak orang sudah terbiasa melakukan travel planning.
Sebelum berangkat, wisatawan dapat menghabiskan waktu untuk mencari tiket termurah, membandingkan lokasi hotel, membaca ulasan, hingga membuat daftar tempat yang ingin dikunjungi.
Semua itu merupakan bagian penting dari persiapan.
Namun, ada satu sisi lain yang juga perlu dipertimbangkan, yakni manajemen risiko perjalanan.
Travel planning pada dasarnya berfokus pada skenario ketika perjalanan berjalan sesuai rencana. Manajemen risiko mencoba melihat kemungkinan ketika sebagian dari rencana tersebut berubah.
Perbedaannya dapat digambarkan secara sederhana.
Travel Planning | Manajemen Risiko Perjalanan |
|---|---|
Memilih tiket | Memahami kemungkinan perubahan perjalanan |
Memesan hotel | Memeriksa kebijakan pembatalan |
Menyusun itinerary | Mempertimbangkan dampak jika jadwal terganggu |
Menyiapkan barang | Memikirkan risiko bagasi dan barang pribadi |
Memilih aktivitas | Memeriksa risiko dan perlindungan yang relevan |
Keduanya tidak saling menggantikan.
Travel planning membantu perjalanan menjadi lebih teratur. Manajemen risiko membantu wisatawan mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan ketika perjalanan tidak berjalan sesuai rencana.
Di tengah meningkatnya tren perjalanan, keseimbangan antara keduanya menjadi semakin relevan.
Masyarakat kini semakin mudah melakukan perjalanan. Pemesanan transportasi, akomodasi, dan aktivitas dapat dilakukan secara digital dalam waktu singkat.
Namun, kemudahan melakukan transaksi tidak menghilangkan ketidakpastian yang mungkin muncul setelah perjalanan dimulai.
Di sinilah muncul paradoks menarik: masyarakat semakin mudah merencanakan liburan, tetapi perencanaan yang semakin mudah belum tentu membuat seseorang otomatis lebih siap menghadapi gangguan perjalanan.
Kesadaran Proteksi Tidak Sama dengan Membeli Produk Secara Otomatis
Pertanyaan mengenai kesadaran proteksi juga perlu dilihat secara lebih luas.
Kesadaran tidak selalu dimulai dari keputusan membeli asuransi perjalanan.
Langkah pertama justru dapat berupa pemahaman bahwa perjalanan memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan.
Misalnya, wisatawan mengetahui bahwa aktivitas olahraga tertentu mungkin membutuhkan perlindungan tambahan. Wisatawan lain memahami bahwa perjalanan keluarga memiliki karakteristik berbeda dibandingkan perjalanan seorang diri.
Ada pula yang memeriksa kebijakan pembatalan tiket dan hotel sebelum melakukan pembayaran.
Semua itu merupakan bagian dari cara seseorang memahami risiko.
Setelah memahami kebutuhan tersebut, wisatawan kemudian dapat mempertimbangkan bentuk perlindungan yang sesuai, termasuk asuransi perjalanan.
Pendekatan ini penting karena tidak semua orang memiliki kebutuhan yang sama.
Wisatawan yang bepergian sekali dalam setahun tentu memiliki pertimbangan berbeda dengan seseorang yang rutin melakukan perjalanan. Perjalanan singkat dalam negeri juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan perjalanan internasional dalam waktu lebih panjang.
Kesalahan yang perlu dihindari adalah memilih perlindungan hanya berdasarkan harga atau membeli produk tanpa memahami manfaat dan pengecualiannya.
Produk dengan biaya lebih rendah belum tentu sesuai dengan seluruh kebutuhan perjalanan. Sebaliknya, perlindungan yang lebih luas juga belum tentu diperlukan jika manfaatnya tidak relevan dengan rencana perjalanan.
Karena itu, membaca ketentuan polis menjadi bagian penting sebelum mengambil keputusan.
Zurich Travel Insurance di Tengah Meningkatnya Mobilitas
Meningkatnya perjalanan masyarakat membuat kebutuhan perlindungan dapat semakin beragam.
Zurich Travel Insurance menyediakan perlindungan untuk perjalanan domestik maupun internasional. Manfaat yang tersedia mencakup perlindungan terhadap kecelakaan diri, biaya medis dan keadaan darurat, pembatalan atau perubahan perjalanan, keterlambatan, bagasi, hingga repatriasi sesuai ketentuan polis.
Pilihan perlindungannya juga dapat disesuaikan dengan pola perjalanan, mulai dari single trip, one-way trip, hingga annual trip.
Bagi wisatawan yang memiliki rencana kegiatan tertentu, tersedia pula manfaat tambahan sesuai kebutuhan dan ketentuan polis.
Wisatawan yang mengikuti kegiatan atau kompetisi olahraga nonprofesional, misalnya, dapat mempertimbangkan perlindungan tambahan untuk acara olahraga amatir.
Sementara itu, aktivitas petualangan dan olahraga salju juga memiliki pilihan perlindungan tambahan yang dapat disesuaikan dengan rencana perjalanan.
Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk Setio Darmawan menyoroti masih adanya anggapan bahwa perlindungan perjalanan hanya dibutuhkan ketika seseorang bepergian ke luar negeri.
“Banyak orang masih menganggap asuransi perjalanan hanya diperlukan saat bepergian ke luar negeri saja. Padahal, risiko perjalanan dapat terjadi di mana saja, baik saat perjalanan domestik maupun internasional. Memanfaatkan long weekend di bulan Agustus, ketika mobilitas masyarakat meningkat, perlindungan perjalanan adalah salah satu langkah sederhana untuk mengantisipasi berbagai risiko sehingga kita bisa menikmati perjalanan dengan tenang,” kata Setio melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Minggu, 16 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut relevan dengan data BPS mengenai tingginya jumlah perjalanan wisatawan nusantara.
Jika perjalanan domestik memiliki volume yang besar, pembahasan mengenai risiko juga tidak seharusnya hanya terfokus pada wisatawan yang melintasi perbatasan negara.
Perjalanan dari satu kota ke kota lain tetap memiliki variabel yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan.
Sakit, perubahan jadwal, gangguan transportasi, dan masalah barang bawaan dapat terjadi tanpa melihat apakah tujuan perjalanan berada di Indonesia atau di negara lain.
Bagaimana Memilih Asuransi Perjalanan Sesuai Profil Perjalanan?
Memilih asuransi perjalanan sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan, “Mana yang paling murah?”
Pertanyaan tersebut dapat menjadi pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya dasar pengambilan keputusan.
Langkah pertama adalah melihat perjalanan yang akan dilakukan.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:
1. Tentukan Tujuan Perjalanan
Perjalanan domestik dan internasional dapat memiliki kebutuhan berbeda.
Perjalanan ke luar negeri, misalnya, dapat melibatkan pertimbangan terkait biaya medis, sistem layanan, dan kebutuhan bantuan ketika berada jauh dari negara asal.
Namun, perjalanan domestik juga tetap memiliki risiko tersendiri yang perlu dipahami.
2. Perhatikan Durasi dan Frekuensi Perjalanan
Orang yang melakukan satu perjalanan mungkin memiliki kebutuhan berbeda dengan mereka yang sering bepergian sepanjang tahun.
Zurich Travel Insurance menyediakan pilihan single trip, one-way trip, dan annual trip yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan.
Pilihan tersebut dapat dipertimbangkan berdasarkan pola mobilitas masing-masing wisatawan.
3. Periksa Aktivitas yang Akan Dilakukan
Wisata santai memiliki karakter berbeda dengan kegiatan olahraga atau aktivitas petualangan.
Jangan mengasumsikan bahwa seluruh kegiatan otomatis masuk dalam perlindungan standar.
Periksa apakah aktivitas yang direncanakan membutuhkan manfaat tambahan serta pahami ketentuan yang berlaku.
4. Pahami Manfaat dan Pengecualian Polis
Ini merupakan salah satu bagian yang tidak seharusnya dilewatkan.
Wisatawan perlu memahami manfaat yang tersedia, batas perlindungan, persyaratan pengajuan, serta kondisi yang tidak termasuk dalam perlindungan.
Membeli asuransi perjalanan tanpa membaca ketentuannya dapat menciptakan ekspektasi yang keliru ketika risiko benar-benar terjadi.
5. Sesuaikan dengan Kebutuhan, Bukan Sekadar Harga
Tujuan utama perlindungan adalah membantu mengantisipasi risiko tertentu sesuai kebutuhan.
Karena itu, pilihan sebaiknya mempertimbangkan relevansi manfaat terhadap perjalanan yang direncanakan.
Seorang wisatawan yang melakukan perjalanan bersama keluarga dapat memiliki pertimbangan berbeda dengan wisatawan yang bepergian sendiri untuk mengikuti kompetisi olahraga.
Semakin spesifik seseorang memahami rencana perjalanannya, semakin mudah menentukan perlindungan yang relevan.
Kesalahan Umum Saat Menyiapkan Perlindungan Perjalanan
Meningkatnya kemudahan memesan perjalanan juga dapat membuat wisatawan mengambil keputusan secara terburu-buru.
Beberapa kesalahan yang dapat dihindari antara lain:
Menganggap perjalanan domestik tidak memiliki risiko. Gangguan kesehatan, perubahan jadwal, dan masalah bagasi tetap dapat terjadi.
Hanya melihat harga. Biaya bukan satu-satunya faktor. Periksa manfaat yang benar-benar relevan.
Tidak membaca ketentuan polis. Wisatawan perlu memahami apa yang ditanggung dan kondisi yang dikecualikan.
Menganggap seluruh aktivitas otomatis dilindungi. Kegiatan olahraga atau petualangan tertentu dapat membutuhkan perlindungan tambahan.
Baru memikirkan risiko setelah perjalanan terganggu. Persiapan biasanya lebih efektif dilakukan sebelum keberangkatan.
Kesalahan-kesalahan tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan perjalanan bukan hanya soal membeli atau tidak membeli sebuah produk.
Hal yang lebih mendasar adalah memahami perjalanan sebagai aktivitas yang memiliki berbagai kemungkinan.
Tren Perjalanan Naik, Kesiapan Menghadapi Risiko Perlu Mengikutinya
Data BPS mengenai 105,98 juta perjalanan wisatawan nusantara pada Desember 2025 dan 823,77 ribu perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri memperlihatkan tingginya mobilitas masyarakat Indonesia.
Namun, data peningkatan perjalanan tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kesadaran terhadap perlindungan perjalanan juga meningkat.
Tidak ada data dalam informasi yang tersedia untuk menyatakan bahwa masyarakat kini lebih sadar terhadap asuransi perjalanan dibandingkan sebelumnya.
Justru, pertanyaan mengenai kesadaran tersebut menjadi penting untuk diajukan.
Semakin banyak masyarakat melakukan perjalanan, semakin relevan pula pertanyaan mengenai kesiapan menghadapi gangguan yang mungkin muncul.
Kesiapan itu tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk yang sama.
Seseorang dapat memeriksa kebijakan pembatalan sebelum membeli tiket. Orang lain dapat menyiapkan informasi mengenai fasilitas kesehatan di tempat tujuan. Wisatawan juga dapat mempertimbangkan asuransi perjalanan sesuai profil risiko dan kebutuhan.
Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk Setio Darmawan mengatakan Zurich berkomitmen membantu masyarakat memperoleh perlindungan perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan.
“Untuk itu, Zurich berkomitmen membantu masyarakat mendapatkan perlindungan perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan, sehingga risiko tidak terduga dapat diantisipasi dengan lebih baik,” ujarnya.
Masyarakat juga dapat membeli Zurich Travel Insurance melalui platform digital proteksi.zurich.co.id untuk memilih perlindungan perjalanan domestik maupun internasional sesuai kebutuhan.
Meski proses pembelian dapat dilakukan secara online, pemahaman terhadap produk tetap menjadi bagian penting dari keputusan tersebut.
Kemudahan membeli perlindungan seharusnya berjalan beriringan dengan kebiasaan membaca manfaat dan ketentuan polis.
Pada Akhirnya, Liburan Bukan Hanya Soal Seberapa Baik Rencana Disusun
Long weekend memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk keluar dari rutinitas.
Ada yang memilih pulang kampung. Ada yang menghabiskan waktu bersama keluarga. Sebagian lainnya memanfaatkan hari libur untuk mengunjungi tempat baru.
Setiap perjalanan tentu dimulai dengan sebuah rencana.
Namun, perjalanan yang matang tidak hanya berisi daftar tempat yang akan dikunjungi atau barang yang harus dibawa. Ada pula ruang untuk mempertimbangkan hal-hal yang mungkin tidak berjalan sesuai harapan.
Meningkatnya tren perjalanan menunjukkan masyarakat Indonesia semakin aktif bergerak. Pertanyaan mengenai kesadaran proteksi pun menjadi semakin relevan.
Meningkatnya jumlah perjalanan tidak otomatis berarti masyarakat semakin siap menghadapi risiko. Namun, semakin tinggi mobilitas, semakin penting pula memahami bahwa perjalanan memiliki variabel yang tidak selalu dapat dikendalikan.
Asuransi perjalanan dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengantisipasi risiko tertentu sesuai kebutuhan dan ketentuan polis. Perlindungan tersebut bukan jaminan bahwa gangguan tidak akan terjadi.
Fungsinya adalah membantu wisatawan menghadapi konsekuensi dari risiko yang termasuk dalam perlindungan.
Pada akhirnya, pertanyaan sebelum bepergian mungkin tidak hanya perlu berhenti pada, “Ke mana kita akan pergi?”
Ada satu pertanyaan lain yang layak masuk ke dalam travel checklist: “Apakah kita sudah cukup siap jika perjalanan tidak berjalan sesuai rencana?”
Pantau terus perkembangan informasi seputar perjalanan, perlindungan, dan pengelolaan risiko agar setiap rencana bepergian dapat dipersiapkan dengan lebih matang.
Baca Juga: Zurich Sediakan Asuransi Kecelakaan Mudik Gratis untuk Pemudik, Ini Cara Mendapatkannya
Baca Juga: Strategi Proteksi Keuangan Keluarga: Mulai dari Dana Darurat hingga Asuransi
FAQ
Mengapa jumlah perjalanan masyarakat Indonesia meningkat?
Data BPS menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara pada Desember 2025 mencapai 105,98 juta perjalanan, naik 4,84% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri mencapai 823,77 ribu perjalanan atau meningkat 1,64% yoy. Data tersebut menunjukkan masyarakat Indonesia tetap aktif melakukan perjalanan, baik domestik maupun internasional.
Apakah meningkatnya perjalanan berarti kesadaran proteksi juga meningkat?
Tidak dapat disimpulkan demikian tanpa data khusus mengenai tingkat kesadaran atau penggunaan perlindungan perjalanan. Meningkatnya mobilitas tidak otomatis berarti masyarakat semakin sadar terhadap asuransi perjalanan. Namun, tren tersebut membuat pembahasan mengenai risiko dan kesiapan sebelum bepergian menjadi semakin relevan.
Apakah perjalanan domestik memerlukan asuransi perjalanan?
Perjalanan domestik tetap dapat menghadapi risiko seperti gangguan kesehatan, kecelakaan, perubahan perjalanan, keterlambatan, atau masalah bagasi. Kebutuhan asuransi perjalanan bergantung pada profil perjalanan, aktivitas, serta risiko yang ingin diantisipasi sesuai manfaat dan ketentuan polis.
Apa saja risiko yang dapat terjadi saat bepergian?
Risiko perjalanan dapat mencakup sakit atau kebutuhan medis, kecelakaan, pembatalan atau perubahan perjalanan, keterlambatan transportasi, serta kerusakan, kehilangan, atau keterlambatan bagasi. Jenis risiko yang relevan dapat berbeda pada setiap perjalanan.
Apakah asuransi perjalanan hanya untuk bepergian ke luar negeri?
Tidak. Asuransi perjalanan juga dapat digunakan untuk perjalanan domestik. Risiko seperti kondisi kesehatan yang berubah, gangguan transportasi, perubahan rencana, dan masalah barang bawaan dapat terjadi baik saat bepergian di dalam maupun luar negeri.
Bagaimana memilih asuransi perjalanan yang sesuai?
Pertimbangkan tujuan, durasi, frekuensi perjalanan, jumlah wisatawan, aktivitas yang direncanakan, serta risiko yang mungkin dihadapi. Penting juga untuk membaca manfaat, batas perlindungan, persyaratan, dan pengecualian polis agar perlindungan yang dipilih sesuai dengan kebutuhan.
Apakah aktivitas olahraga dan petualangan ditanggung asuransi perjalanan?
Tidak semua aktivitas otomatis masuk dalam perlindungan standar. Beberapa kegiatan dapat membutuhkan manfaat tambahan. Karena itu, wisatawan perlu memeriksa ketentuan produk dan memastikan aktivitas yang direncanakan sesuai dengan cakupan perlindungan.