Jakarta -
Jepang kebanjiran wisatawan asing, tetapi industri perhotelannya mulai kewalahan. Lebih dari 70% hotel mengaku kekurangan tenaga kerja.
Temuan itu tertuang dalam White Paper on Tourism yang dirilis pemerintah Jepang pada Jumat lalu. Pemerintah Jepang menilai persoalan kekurangan tenaga kerja perlu segera diatasi agar sektor pariwisata dapat terus tumbuh secara berkelanjutan sebagai salah satu industri strategis Jepang.
Mengutip The Japan Times, Senin (13/7/2026), survei yang dimuat dalam laporan tersebut melibatkan 522 hotel dan akomodasi lain pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026. Hasilnya, sebanyak 72,2% responden menyatakan mengalami kekurangan pegawai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi paling berat dialami akomodasi berskala menengah dengan omzet tahunan antara 100 juta yen hingga 1 miliar yen (Rp 11 hingga 111 miliar). Dari 280 akomodasi yang disurvei dalam kategori itu, 77,1% mengaku kekurangan tenaga kerja.
Sebagian besar di antaranya memiliki kurang dari 100 karyawan, bahkan hampir separuh hanya mempekerjakan kurang dari 30 orang. Dampaknya mulai dirasakan oleh para pelaku usaha.
Sebanyak 79,3% responden mengatakan beban kerja karyawan meningkat saat musim liburan atau periode kunjungan wisatawan sedang tinggi. Kemudian, 50,4% menyebut proses merekrut pegawai baru membutuhkan biaya dan waktu lebih besar, sedangkan 40,6% mengaku terpaksa mengurangi layanan kepada tamu karena keterbatasan tenaga kerja.
Laporan itu juga mengungkap rendahnya upah dan minimnya hari libur menjadi penyebab utama industri akomodasi kesulitan menarik pekerja baru. Pemerintah Jepang menilai perekrutan tenaga kerja asing dan pekerja paruh waktu hanya menjadi solusi sementara.
Untuk mengatasi masalah secara menyeluruh, diperlukan perbaikan kondisi kerja melalui kenaikan gaji, peningkatan kesejahteraan karyawan, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih ramah bagi perempuan.
Selain memperbaiki kualitas tenaga kerja, pemerintah juga menilai investasi di sektor pariwisata perlu terus ditingkatkan. Pemanfaatan teknologi digital dan sistem operasional berbasis perangkat lunak dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing industri pariwisata Jepang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang terus mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan asing. Sepanjang 2025, negara itu menerima 42,68 juta wisatawan mancanegara, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah.
Data Japan Tourism Agency juga menunjukkan Jepang menjadi negara dengan jumlah kunjungan wisatawan asing terbanyak di Asia pada 2024 dan berada di peringkat kesembilan dunia. Pada tahun yang sama, Jepang juga mencatat pendapatan sektor pariwisata terbesar di Asia dan menempati posisi kedelapan dunia.
Pemerintah Jepang pun menargetkan jumlah wisatawan mancanegara mencapai 60 juta orang per tahun pada 2030.
(upd/fem)