UIN Walisongo Semarang menngajukan akreditasi AQCUIN untuk 38 prodi

UIN Walisongo Semarang menngajukan akreditasi AQCUIN untuk 38 prodi

Senin, 13 Juli 2026 08:42 WIB

Image Print

Asesor dari AQCUIN saat menyampaikan paparan pada visit site di UIN Walisongo Semarang, Minggu (12/7/2026). ANTARA/HO-UIN Walisongo Semarang

Semarang (ANTARA) - Sebanyak 38 program studi di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menjalani tahapan akreditasi dari ACQUIN (Accreditation, Certification, and Quality Assurance Institute), lembaga akreditasi yang berpusat di Jerman.

Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Musahadi di Semarang, Minggu, menyampaikan bahwa akreditasi ACQUIN menjadi bagian upaya untuk internasionalisasi dan rekognisi kampus.

"Karena UIN Walisongo ini sudah unggul akreditasinya pada level nasional, maka kita ingin agar kita juga melangkah untuk internasionalisasi," katanya.

Hal tersebut disampaikannya saat menerima kedatangan tim ACQUIN yang melakukan "site visit" atau asesmen lapangan sebagai bagian dari tahapan akreditasi.

Ia menjelaskan bahwa tahapan akreditasi ACQUIN itu sudah dilakukan sejak 2025 dengan persiapan teknis dan pengajuan proposal dari 38 prodi, kemudian ditindaklanjuti dengan "site visit" yang dijadwalkan hingga 22 Juli mendatang.

"Karena 38 prodi itu banyak, sehingga dibuat 'batch', dibuat tahapan-tahapan per kelompok program studi yang memiliki kedekatan dari sisi bidang ilmu," katanya.

Sebanyak 38 prodi itu tersebar di semua fakultas, antara lain PAI (Pendidikan Agama Islam) di Fakultas Tarbiyah, Studi Agama-Agama di Fakultas Ushuluddin, serta Ilmu Hukum dan Ahwal Syakhsiyah di Fakultas Syariah.

"Sisanya nanti tentu (prodi, red.) yang sudah siap. Kalau yang belum, seperti prodi baru, kita harus mempersiapkan dulu segala sesuatunya," katanya.

Menurut dia, persiapan yang dilakukan, meliputi kaji ulang tata kelola kampus, proses belajar mengajar, kesiapan dosen dan staf, laboratorium, dan dukungan aktivitas internasional.

Musahadi berharap seluruh prodi, yakni 38 prodi yang diajukan akreditasi itu lolos semuanya sehingga bisa segera disiapkan prodi-prodi baru untuk diajukan.

Sementara itu, Project Manager AQCUIN Robert Raback menjelaskan bahwa lembaga tersebut memiliki asesor yang berasal dari berbagai negara, seperti Austria, Malaysia, dan Jerman.

Ia menjelaskan bahwa akreditasi internasional penting untuk konektivitas dengan jaringan program terakreditasi dunia, kemudahan "student mobility".

Kemudian, kesetaraan sistem kredit semester (SKS)/standar akademik, dan bahasa standar yang sama untuk kolaborasi riset atau publikasi.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.