Viral Remaja Perempuan Lahir Tanpa Organ Intim, Begini Ceritanya

Jakarta -

Sebuah kasus langka dialami tim dokter di Max Hospital, Gurugram, India. Mereka berhasil melakukan operasi rekonstruksi pada seorang remaja perempuan berusia 18 tahun asal Republik Demokratik Kongo.

Diketahui, remaja tersebut terlahir tanpa leher rahim (serviks) dan saluran vagina. Kondisi tersebut dialaminya sejak lahir.

Akibatnya, ia tidak pernah mengalami menstruasi meskipun ovariumnya berfungsi normal. Darah haid yang tidak bisa keluar justru terjebak dan menumpuk di dalam rahim, memicu rasa nyeri panggul kronis yang luar biasa menyiksa setiap bulan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia bahkan sempat salah diagnosis dan harus melewati empat kali operasi perut yang gagal di negara asalnya, mulai dari operasi usus buntu hingga hernia, yang justru meninggalkan banyak bekas luka keloid di perutnya.

Harapan baru muncul saat keluarganya memutuskan terbang ke India dan mendapati diagnosis pasti, yakni agenesia servikovaginal.

Prosedur Rumit Membangun Saluran Baru

Kondisi yang dialami pasien merupakan salah satu gangguan saluran reproduksi paling rumit dalam dunia medis. Demi menyelamatkannya, tim dokter melakukan operasi serviko-vaginoplasti kompleks untuk membuat vagina baru atau neovagina, sekaligus merekonstruksi leher rahimnya agar tersambung utuh dengan rahim bagian atas.

"Ini adalah kasus yang sangat menantang karena pasien memiliki rahim dan ovarium yang berfungsi normal tetapi dilahirkan tanpa serviks dan vagina," ungkap dr Suman Lal, Direktur Senior sekaligus Kepala Unit Obstetri dan Ginekologi Max Hospital dikutip dari Times of India.

"Tujuan kami bukan hanya mengurangi rasa sakitnya, tetapi juga merekonstruksi saluran reproduksi sambil mempertahankan fungsi rahim," sambungnya.

Sembuh Total Setelah Sempat Kena Infeksi

Perjalanan pasca-operasi pasien dipantau secara super ketat oleh tim medis. Ia sempat diperbolehkan pulang setelah 8 hari operasi, tetapi harus dirawat kembali pada hari ke-18 untuk pemeriksaan terencana di bawah pengaruh anestesi.

Saat itulah dokter menemukan adanya infeksi ringan dan sedikit cairan di dekat lokasi operasi. Beruntung, komplikasi tersebut langsung ditangani cepat dengan antibiotik yang tepat sasaran hingga dinyatakan sembuh total keesokan harinya.

Kini, dalam waktu tiga minggu setelah operasi, bentuk anatomi organ reproduksinya telah pulih dengan sangat baik. dr Lal juga memberikan peringatan keras kepada para orang tua mengenai pentingnya deteksi dini pada anak perempuan.

"Gadis muda yang sudah pubertas tetapi tidak kunjung menstruasi meskipun ciri fisik seksualnya berkembang normal harus segera diperiksa," beber Dr Lal.

Nyeri perut bulanan yang terus-menerus tanpa adanya menstruasi tidak boleh diabaikan, karena bisa jadi itu tanda anomali saluran reproduksi bawaan," tutupnya.

Halaman 2 dari 2

(sao/dpy)