Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo terus meluas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 600 orang meninggal dunia, sementara otoritas kesehatan Afrika menyebut penyebaran wabah kali ini menjadi yang paling cepat dibandingkan seluruh wabah Ebola yang pernah tercatat.
Dilansir dari CNA, Jumat (10/7) Kepala Kesiapsiagaan dan Respons Darurat Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Wessam Mankoula, mengatakan laju penyebaran virus saat ini melampaui kemampuan petugas dalam mengendalikan wabah.
"Ini adalah wabah Ebola yang paling cepat berkembang yang pernah ada, tidak hanya di antara wabah Bundibugyo sebelumnya, tetapi semua virus berbeda yang menyebabkan Ebola," kata Mankoula.
Menurut dia, wabah Ebola terbesar di Afrika Barat pada 2013-2016 mencatat 994 kasus dalam enam minggu pertama. Sebaliknya, wabah yang kini terjadi di Kongo telah mencapai 1.596 kasus hanya dalam periode yang sama.
Mankoula mengatakan penyebaran virus masih berlangsung lebih cepat dibandingkan upaya penanganan di lapangan.
"Sayangnya, virus ini masih lebih cepat daripada respons kita. Virus ini menyebar lebih cepat daripada pengerahan sumber daya untuk mengendalikan situasi," ujarnya.
Ia memperkirakan jumlah kasus dapat berlipat ganda setiap 28 hari apabila penanganan tidak segera diperkuat.
Untuk mempercepat respons, Africa CDC memperkirakan dibutuhkan dana sekitar 1,4 miliar dollar AS guna mendukung penanganan kesehatan dan operasi kemanusiaan.
"Kita perlu meningkatkan respons kita, dan peningkatan respons berarti sumber daya keuangan dan sumber daya manusia," kata Mankoula.
"Kami mendesak semua mitra dan donor untuk mempercepat penyaluran sumber daya tersebut," lanjutnya.
Wabah Ebola kali ini disebabkan oleh virus spesies Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui. Virus tersebut menyebar melalui kontak erat dengan penderita atau cairan tubuh yang terinfeksi.
Data WHO menunjukkan tingkat kematian kasus (case fatality rate) wabah ini mencapai sekitar 34 persen. Selain 600 kematian, sebanyak 285 pasien dilaporkan telah sembuh, sementara 304 kasus suspek masih dalam penyelidikan.
WHO menyebut wabah saat ini terkonsentrasi di Provinsi Ituri, wilayah timur laut Kongo yang juga menghadapi konflik bersenjata. Kondisi keamanan, perpindahan penduduk, dan lemahnya sistem kesehatan menjadi tantangan utama dalam pengendalian wabah.
"Pergerakan penduduk, ketidakamanan yang terus-menerus, dan rapuhnya sistem kesehatan terus mempersulit upaya untuk mengendalikan wabah," kata Perwakilan WHO di Kongo, Anne Ancia.
Sebagai bagian dari upaya penanganan, Pemerintah Kongo mulai menguji dua kandidat terapi untuk Ebola Bundibugyo, yakni antibodi monoklonal MBP134 dan antivirus remdesivir, yang diuji secara terpisah maupun kombinasi untuk mengetahui efektivitasnya.