Aisha Mayra, CNBC Indonesia
21 August 2026 18:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Investasi artificial intelligence (AI) kini menjadi salah satu penentu terbesar arah ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2026.
Sebanyak 59% ekonom dari lembaga keuangan AS menyebut koreksi investasi AI sebagai risiko penurunan ekonomi terbesar tahun ini. Angka tersebut mengungguli risiko eskalasi geopolitik sebesar 47% dan kenaikan harga energi sebesar 35%.
Namun, ada sisi lain yang menarik. AI juga menjadi sumber potensi pertumbuhan terbesar bagi ekonomi AS, dengan 29% ekonom menyebut belanja modal atau capital expenditure (CapEx) terkait AI sebagai peluang kenaikan terbesar.
Artinya, ekonomi AS kini menghadapi taruhan yang sama dari dua arah. Jika investasi AI terus berlanjut dan menghasilkan kenaikan produktivitas, ekonomi bisa mendapat dorongan baru. Namun jika terjadi koreksi tajam, investasi yang sama justru dapat menjadi sumber tekanan.
AI Jadi Risiko Terbesar
Kekhawatiran terhadap AI tidak tanpa alasan. Belanja modal lima perusahaan teknologi besar AS, yakni Amazon, Google, Meta, Microsoft, dan Oracle, mencapai US$412 miliar pada 2025.
Itu setara dengan 1,3% Produk Domestik Bruto (PDB) AS.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa investasi AI sudah jauh melampaui cerita soal industri teknologi. Belanja untuk pusat data, perangkat komputasi, dan infrastruktur pendukung kini ikut menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi AS.
Karena itu, perlambatan investasi AI berpotensi langsung terasa pada pertumbuhan ekonomi. Jika pembangunan pusat data dan pembelian perangkat komputasi melambat, investasi bisnis secara keseluruhan juga bisa ikut tertekan.
Berikut risiko penurunan ekonomi AS yang paling banyak disebut ekonom
Berikut risiko penurunan ekonomi AS yang paling banyak disebut ekonom:
Di luar AI, sebagian besar risiko tersebut berkaitan dengan meningkatnya biaya.
Eskalasi geopolitik berada di posisi kedua dengan 47%. Sementara kenaikan harga energi yang disebut oleh 35% ekonom berpotensi menekan anggaran rumah tangga sekaligus margin perusahaan.
Kenaikan suku bunga juga menjadi perhatian 29% ekonom. Bagi masyarakat, suku bunga yang lebih tinggi berarti biaya hipotek dan pinjaman meningkat. Bagi dunia usaha, kondisi tersebut dapat membuat investasi menjadi lebih mahal.
Tapi AI Juga Jadi Harapan Terbesar
AI yang berada di posisi pertama sebagai ancaman juga menjadi peluang ekonomi terbesar. Sebanyak 29% ekonom melihat belanja modal terkait AI sebagai sumber potensi kenaikan ekonomi AS pada 2026.
Harapannya, investasi besar yang dilakukan perusahaan teknologi saat ini pada akhirnya menghasilkan peningkatan produktivitas.
Untuk sementara, investasi tersebut sudah memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi. Investasi teknologi bahkan menyumbang 25% pertumbuhan PDB riil AS sejak 2023, dengan kontribusinya meningkat tajam hingga awal 2026.
Berikut faktor yang dinilai dapat menjadi sumber kenaikan ekonomi AS
Berikut faktor yang dinilai dapat menjadi sumber kenaikan ekonomi AS:
Dampaknya juga tidak hanya dirasakan perusahaan teknologi.
Jika inflasi dan harga energi turun, rumah tangga memiliki ruang lebih besar untuk membelanjakan pendapatan pada kebutuhan lain. Sementara pasar tenaga kerja yang kuat dapat menopang pendapatan masyarakat.
Suku bunga yang lebih rendah juga akan membuat biaya hipotek dan pinjaman lainnya menjadi lebih murah.
Ekonomi AS Makin Bertaruh pada AI
Di satu sisi, pembangunan infrastruktur AI mendorong investasi bisnis dan aktivitas ekonomi. Jika tren tersebut terus berlanjut dan menghasilkan peningkatan produktivitas, AI dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru AS.
Namun di sisi lain, semakin besar peran AI dalam investasi ekonomi, semakin besar pula dampaknya jika terjadi koreksi.
Dengan belanja modal perusahaan teknologi yang sudah mencapai ratusan miliar dolar, perubahan arah investasi AI tidak lagi hanya menjadi persoalan perusahaan teknologi. Dampaknya berpotensi merembet ke investasi bisnis dan pertumbuhan ekonomi AS secara lebih luas.
Jika AI boom berlanjut, investasi besar hari ini dapat berubah menjadi produktivitas dan pertumbuhan yang lebih kuat. Namun jika belanja tersebut berbalik tajam, investasi yang sama dapat menjadi salah satu titik lemah ekonomi AS.
(mae/mae)