Warga Graha Pramuka Sampit rakit alat pemadam sederhana antisipasi karhutla
Kamis, 6 Agustus 2026 17:38 WIB
Warga Graha Pramuka Sampit rakit alat pemadam sederhana antisipasi karhutla, Selasa (4/6/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi
Sampit (ANTARA) - Warga Perumahan Graha Pramuka di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, berinisiatif merakit alat pemadam kebakaran sederhana secara swadaya sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat pada musim kemarau.
“Alat ini kami siapkan sebagai cadangan untuk pemadaman kebakaran kalau petugas Damkar belum sampai ke lokasi,” kata salah seorang warga Graha Pramuka, Anwar di Sampit, Kamis.
Anwar menjelaskan, inisiatif tersebut berangkat dari pengalaman warga yang hampir setiap tahun berhadapan dengan karhutla. Lokasi permukiman yang berbatasan dengan lahan kosong dan semak membuat kawasan itu tergolong rawan terjadi kebakaran saat cuaca kering.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat tidak hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran, tetapi juga menyiapkan sarana penanganan awal agar api dapat segera dikendalikan sebelum membesar dan mengancam rumah warga.
Peralatan yang dirakit terdiri atas mesin pompa air atau alkon, drum sebagai penampung air, serta selang bertekanan. Seluruh komponen dipilih karena mudah diperoleh dan dapat dirakit sendiri oleh masyarakat tanpa memerlukan teknologi yang rumit.
“Yang kami siapkan alkon, drum, sama selang-selang. Ini semuanya dilakukan secara mandiri,” sebutnya.
Ia melanjutkan, keberadaan alat sederhana tersebut sudah pernah dimanfaatkan saat muncul titik api di sekitar kawasan permukiman. Dengan menggunakan peralatan itu, warga mampu melakukan pemadaman awal sehingga kobaran api tidak sempat meluas sebelum petugas satuan tugas penanggulangan karhutla tiba di lokasi.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan warga bahwa kesiapsiagaan masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi risiko kebakaran, terutama pada menit-menit awal ketika api baru mulai muncul.
Baca juga: DPRD Kotim dukung penerapan pidana kerja sosial
Anwar mengungkapkan, biaya yang dibutuhkan untuk merakit satu unit alat pemadam sederhana itu mencapai sekitar Rp5 juta. Seluruh pembiayaan berasal dari dana pribadi sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan lingkungan.
“Kalau dihitung-hitung modalnya kurang lebih Rp5 jutaan. Itu secara pribadi dan mandiri,” bebernya.
Dsamping menyediakan peralatan, warga juga meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dengan rutin memantau kondisi lahan di sekitar permukiman.
Langkah itu dilakukan agar apabila ditemukan titik api, penanganan dapat segera dilakukan sembari menunggu bantuan petugas.
Menurut Anwar, keterlibatan masyarakat dalam penanganan awal karhutla menjadi faktor penting untuk mempercepat respons terhadap kebakaran. Semakin cepat api ditangani, semakin kecil peluang kobaran meluas ke kawasan permukiman maupun lahan di sekitarnya.
Warga berharap upaya swadaya tersebut dapat menginspirasi lingkungan lain, khususnya kawasan yang berada di sekitar lahan kosong, semak belukar maupun wilayah rawan karhutla.
Dengan meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat, potensi meluasnya kebakaran diharapkan dapat ditekan sekaligus mendukung upaya pemerintah dan tim satgas dalam pengendalian karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur.
“Harapannya untuk membantu pemadaman sambil menunggu petugas datang, karena semakin cepat api ditangani maka kemungkinan api membesar juga bisa dicegah,” demikian Anwar.
Baca juga: BKSDA Sampit apresiasi kepedulian warga selamatkan anak orangutan
Baca juga: Pemkab Kotim mulai pembangunan drainase DI Pandjaitan akhir Agustus
Baca juga: DPRD Kotim tegaskan kemitraan Agrinas harus berjalan transparan
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.