Warga keluhkan asap pekat mulai selimuti Sampit
Rabu, 5 Agustus 2026 07:19 WIB
Seorang pelajar menggunakan masker agar tidak terhirup asal kebakaran lahan saat melintas di kawasan wisata Terowongan Nur Mentaya Jalan Tjilik Riwut Sampit, Rabu pagi (5/8/2026). ANTARA/HO/Pariyanto
Sampit (ANTARA) - Semakin maraknya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mulai menimbulkan asap pekat, khususnya di Sampit yang merupakan ibu kota kabupaten ini pada Rabu pagi.
"Asapnya sangat parah. Saya jadi khawatir kondisi ini terus berlanjut. Kasihan anak-anak kita," kata Susanto, warga Sampit, Rabu.
Berdasarkan data dirilis Stasiun Meteorologi H Asan BMKG Kotawaringin Timur, jarak pandang di sekitar bandara pada pukul 06.00 WIB hanya 500 meter dengan status cuaca berkabut. Sementara itu di beberapa lokasi seperti di Jalan Jenderal Sudirman, jarak pandang pagi hari jauh lebih pendek.
Asap yang menyelimuti Sampit pada pagi ini lebih pekat dibanding yang pernah terjadi sebelumnya sepanjang tahun ini. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat jika asap semakin parah karena akan berdampak buruk terhadap berbagai sektor.
Pekatnya asap pagi ini membuat banyak warga yang menggunakan masker agar terhindar dari terhirup asap bercampur debu kebakaran lahan. Sebagian pelajar terlihat mengenakan masker saat berangkat ke sekolah. Namun tidak sedikit pula warga yang tidak mengenakan masker.
Sejak pekan lalu, Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur membagikan ribuan masker kepada masyarakat, khususnya pengguna jalan pada pagi hari. Dinas Kesehatan juga sudah mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan mengurangi kegiatan di luar ruangan jika tidak mendesak, untuk mencegah dampak buruk terhirup asap kebakaran lahan.
Baca juga: DKUKMPP Kotim pastikan akurasi timbangan di pasar dengan uji tera
Masyarakat berharap pemerintah pusat dan provinsi meningkatkan dukungan penanggulangan karhutla di Kotawaringin Timur. Jangan sampai situasinya bertambah parah karena dampak kabut asap akan sangat buruk bagi masyarakat.
"Kita sudah pernah mengalami dampak parah kabut asap yaitu banyak yang kena ISPA, khususnya anak-anak. Penerbangan terganggu, ekonomi terganggu, hampir semua terganggu. Mudah-mudahan itu tidak terulang. Saya khawatir, apalagi saya punya anak kecil. Tentu sangat rentan terdampak asap," ujar Maria, warga lainnya.
Sementara itu, kebakaran lahan pada Selasa (4/8) masih marak. Setidaknya delapan lokasi kebakaran sepanjang siang hingga malam.
Kebakaran lahan tersebut di antaranya terjadi di Jalan Graha Pramuka Jalur 1, Sangga Buana-Sekar Arum-Tidar 3, MT Haryono Barat, Pelita Barat, Bumi Raya 1, Tjilik Riwut KM 7, Jenderal Sudirman KM dan KM 23. Beberapa lokasi merupakan kebakaran yang terjadi sejak hari sebelumnya dan belum sepenuhnya padam.
Jumlah tersebut belum termasuk kebakaran yang muncul di beberapa lokasi pada Selasa malam. Seperti di Jalan Tjilik Riwut yang menghubungkan Sampit-Kota Besi, dilaporkan terjadi kebakaran lahan di beberapa titik.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, Multazam mengatakan, tim gabungan terus bekerja keras untuk memadamkan kebakaran lahan yang terjadi saat ini. Sementara itu untuk lokasi yang tidak bisa dijangkau melalui jalur darat, pemadaman dibantu dengan pengeboman air atau water bombing menggunakan helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Kami mengimbau dengan sangat kepada masyarakat untuk membantu mencegah dan menanggulanginya karhutla ini agar tidak semakin parah. Membakar lahan akan membawa dampak buruk bagi masyarakat luas. Selain itu, ada konsekuensi hukum bagi pelaku karena aparat penegak hukum sudah menegaskan akan menindak secara tegas," demikian Multazam.
Baca juga: Bupati Kotim ajukan perubahan KUA-PPAS 2026
Baca juga: Kapolda Kalteng optimalkan penanganan karhutla di Kotim
Baca juga: Karhutla di Kotim semakin marak, pemadaman tidak bisa langsung tuntas
Pewarta : Norjani
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.