Jakarta -
Setelah sebelumnya menyebut Singapura akan punah, Elon Musk kembali berkomentar mengenai tingkat fertilitas di Negeri Singa tersebut. Singapura sebenarnya pun tak cuma diam, melainkan terus berusaha membalikkan rekor terendah tingkat kesuburan total (TFR) sebesar 0,87.
Bos SpaceX itu menanggapi sebuah unggahan di X oleh pengguna bernama XFreeze, yang menyoroti langkah-langkah yang diumumkan oleh Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam acara National Day Rally (NDR) 2026 pada Minggu (23/8/2026). Langkah itu bertujuan untuk mengatasi krisis tingkat kelahiran di negara Singapura.
Ada pun usaha-usahanya mencakup bantuan keuangan langsung sebesar SGD 70.000 atau sekitar Rp 975 juta lebih bagi setiap warga Singapura sejak lahir hingga usia 17 tahun, penambahan cuti pengasuhan anak, serta peluang lebih besar bagi keluarga baru untuk mendapatkan unit apartemen Build-to-Order (BTO).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Unggahan itu juga menyertakan cuplikan video saat PM Wong berbicara dalam acara NDR.
"Singapura benar-benar mengerahkan segala upaya untuk mengatasi masalah tingkat kelahiran," tulis XFreeze dalam unggahannya pada hari Senin.
"Itu bukan sekadar penurunan biasa. Itu adalah kondisi di mana sebuah negara sama sekali tidak mampu mempertahankan jumlah populasinya. Ini merupakan masalah besar bagi negara tersebut," tambah pengguna X itu.
Musk kemudian ikut mengunggah ulang tweet XFreeze pada hari Selasa, disertai komentar. "Manusia sedang menghilang," kata pemilik platform X itu.
Postingan Musk pun telah dilihat lebih dari 7,5 juta kali dan disukai lebih dari 20.000 kali.
Ini bukan kali pertama Musk berkomentar mengenai penurunan pertumbuhan populasi Singapura. Pada Desember 2024, ia memperingatkan bahwa Singapura dan banyak negara lain sedang menuju kepunahan di tengah kekhawatiran mengenai rendahnya angka kelahiran, menyusutnya angkatan kerja, dan penuaan populasi.
Sementara itu, Musk memiliki 14 anak dari empat wanita. Dia sendiri memandang memiliki anak merupakan cara untuk memastikan warisan positif bagi masa depan.
Pendapat warganet akhirnya terbelah, menanggapi pernyataan terbaru Musk. Salah satu komentar menyebut bahwa pasangan banyak yang tidak memiliki uang atau waktu untuk punya anak.
Komentar lain sebagian besar sependapat dengan pandangan Musk. Namun, mereka turut mempertanyakan apakah ia justru juga memperparah masalah tersebut dengan memproduksi robot dalam skala besar.
Ada pula yang menyoroti biaya perumahan sebagai faktor utama di balik penurunan angka kelahiran.
"Satu-satunya masalah di sini adalah biaya perumahan. Saat biaya perumahan naik, angka kelahiran pun turun," pendapat seorang warganet.
"Peradaban tidak runtuh karena kehabisan penduduk. Peradaban mulai runtuh ketika memiliki anak menjadi tindakan yang tidak rasional secara ekonomi," timpal yang lain. Demikian melansir AsiaOne.
(ask/ask)
TAGS
LIHAT LAINNYA