Yayoi Kusama, Seniman 'Polkadot' yang Dapat Inspirasi dari Halusinasi

CNN Indonesia

Kamis, 27 Agu 2026 12:30 WIB

Yayoi Kusama, seniman avant-garde asal Jepang tutup usia di angka 97 tahun. Ia dikenal luas dengan ciri khas polkadot dan infinity mirror room.
Ilustrasi. Yayoi Kusama, seniman avant-garde asal Jepang tutup usia di angka 97 tahun. Ia dikenal luas dengan ciri khas polkadot dan instalasi infinity mirror room. (AFP/TOSHIFUMI KITAMURA)

Jakarta, CNN Indonesia --

Yayoi Kusama, seniman avant-garde asal Jepang tutup usia di angka 97 tahun. Kerap menyebut dirinya sebagai 'seniman obsesif,' Kusama dikenal luas dengan ciri khas polkadot dan instalasi infinity mirror room.

Kusama banyak menelurkan karya lukisan, patung, seni pertunjukan, hingga instalasi dalam berbagai gaya, termasuk pop art dan minimalisme. Halusinasi yang dialaminya menjadi inspirasi utama karya-karyanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip The Japan Times, kabar berpulangnya Kusama dirilis di situs web resmi perusahaannya pada Kamis (27/8). Adapun Kusama meninggal dunia pada Jumat (14/8) di rumah sakit di Tokyo.

Halusinasi jadi inspirasi

Instalasi Instalasi "You, Me and The Balloons" oleh Kusama di Manchester, Inggris, 29 Juni 2023. Polkadot merupakan halusinasi yang sering jadi inspirasinya. (REUTERS/PHIL NOBLE)

Kusama lahir di Matsumoto, Jepang, pada 1929. Ia menjalani masa kecil tak bahagia bersama ibu yang kasar dan ayah yang suka berselingkuh.

Sejak kecil ia mulai mengalami halusinasi, seperti lapangan penuh bintik-bintik. Menggambar menjadi caranya untuk mengekspresikan apa yang dilihatnya. Halusinasi dan polkadot ini menjadi pengaruh utama karya seni sepanjang kariernya sebagai seniman.

Pilihan Redaksi

  • Bambi Print, Tren Motif Baru yang Terinspirasi dari Bulu Rusa
  • Ini 6 Cara Padu Padan Tas Sesuai Gayamu, Maksimalkan Tampilan
  • Korean Beauty Mulai Bergeser, Tak Lagi Sekadar Skincare

Terkait pendidikan seni, seperti dikutip dari Britannica, Kusama sebenarnya mengecap pendidikan formal singkat pada 1948-1949 di Sekolah Seni Spesialis Kota Kyoto.

Konflik keluarga dan merasa terkekang di negaranya, mendorong Kusama untuk pindah ke Amerika Serikat pada 1957, lalu menetap di New York.

Di New York, Kusama memulai babak baru dengan berbagai lukisan 'infinity net.' Lukisan-lukisan ini terdiri dari ribuan tanda kecil yang diulang di atas kanvas besar tanpa memperhatikan tepiannya, seolah titik-titik tersebut berlanjut hingga tak terbatas.

Lukisannya ini mengantisipasi gerakan minimalis yang sedang muncul kala itu, tetapi karyanya segera beralih ke karya pop dan seni pertunjukan.

Kusama pun menjadi tokoh sentral dalam gerakan avant-garde New York. Karyanya dipamerkan bersama karya seniman lain, seperti Donald Judd, Claes Oldenburg, dan Andy Warhol.

Pada awal 1960-an, pengulangan yang obsesif ini menjadi tema dalam seni patung dan instalasi Kusama. Instalasi yang ia buat pada masa itu, termasuk Infinity Mirror Room-Phalli's Field (1965), yakni ruangan bercermin dengan lantai ditutupi ratusan falus yang diisi dan dicat titik-titik merah.

Cermin menciptakan bidang tak terbatas dalam instalasi Kusama. Ia pun terus menggunakannya dalam berbagai karya selanjutnya.

Pada periode 1960-an tersebut, seni pertunjukan Kusama mengeksplorasi tema antiperang, antikemapanan, dan cinta bebas. Dalam Grand Orgy to Awaken the Dead (1969), Kusama melukis titik-titik pada tubuh telanjang para peserta di air mancur taman patung Museum Seni Modern New York.

Terhadap pertunjukan tanpa izin tersebut, para kritikus menuduhnya melakukan promosi diri yang intens. Namun karyanya mendapat perhatian media dengan Grand Orgy muncul di halaman depan New York Daily News.

Kembali ke Jepang dan menetap di RS Jiwa

Pameran Yayoi Kusama di Museum Macan, Jakarta, pada 2018.Pameran Yayoi Kusama di Museum Macan, Jakarta, pada 2018. Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri

Pada 1973, Kusama akhirnya kembali ke Jepang. Lalu atas kemauannya sendiri, pada 1977 ia mulai tinggal di rumah sakit jiwa.

Selama dirawat RS jiwa, Kusama tetap menghasilkan karya seni. Ia menulis puisi dan fiksi surealis, seperti The Hustlers Grotto of Christopher Street (1984) dan Between Heaven and Earth (1988).

Pada 1989, Kusama kembali ke dunia seni internasional melalui pameran di New York dan Oxford, Inggris. Lalu pada 1993, ia mewakili Jepang di Biennale Venesia dengan karya Mirror Room (Pumpkin), instalasi ruangan penuh cermin dengan patung labu yang ditutupi polkadot.

Sekitar 1998-1999, retrospeksi besar karya-karya Kusama dipamerkan di Museum Seni Los Angeles, Museum Seni Modern di New York, Walker Art Center di Minneapolis, Minnesota, hingga Museum Seni Kontemporer Tokyo.

Tahun 2006, Kusama menerima penghargaan Praemium Imperiale dari Asosiasi Seni Jepang untuk bidang lukisan. Karyanya pun menjadi subjek retrospeksi besar sepanjang abad ke-21 dan ditampilkan di berbagai museum dan galeri seni di sejumlah negara, termasuk di Museum Macan pada 2018.

Adapun pada 2017, ia membuka museum di Tokyo yang didedikasikan untuk berbagai karyanya. Museum ini berada dekat studio dan RS jiwa tempatnya dirawat.

(rti)